Blogger news

MSP

Manajemen Sumberdaya Perairan

Jumat, 04 Januari 2013

Laporan Limnologi Debit Air

I. PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang
Debit air adalah jumlah air yang mengalir dalam suatu penampang tertentu (sungai / saluran / mata air). Pemilihan lokasi pengukuran debit air : 1. dibagian sungai yang relatif lurus, 2. jauh dari pertemuan cabang sungai 3. tidak ada tumbuhan air, 4. aliran tidak turbelenl, 5. aliran tidak melimpah melewati tebing sungai (Penuntun Praktikum Limnologi)
Debit air merupakan jumlah air yang mengalir dari suatu penampang tertentu (sungai/saluran/mata air) persatuan waktu (liter/detik,m3/detik, dm3/detik). Pengukuran debit air ini di lakukan pada perairan lentik yaitu perairan yang sifatnya dangkal. Seperti yang telah dilakukan di waduk Faperika.
Air merupakan bahagian yang esensial dari protoplasma dan dapat dikatakan bahwa semua jenis kehidupan bersifat aquatik. Dalam prakteknya suatu habitat aquatik apabila mediumnya baik eksternal maupun internal adalah air.
Waduk merupakan salah satu perairan yang sudah lama dimanfaatkan oleh sebagian manusia untuk menyokong kehidupannya. Ekosistem waduk merupakan media hidup berbagai jenis biota air. Pada kondisi yang baik akan sangat berarti bagi kelangsungan biota tersebut. Ekosistem perairan dari lingkungan biotik dan abiotik yang meliputi sifat-sifat fisika, kimia, dan biologi yang saling berinteraksi antara yang satu dengan yang lain.
Limnologi merupakan ilmu yang mempelajari aspek dinamika fisika, kimia, dan biologi perairan umum semakin berkembang pesat di Indonesia. Hal ini karena semakin pentingnya arti ilmu tersebut dalam pengelolaan perairan tawar bagi umat manusia.
Menurut perintis ilmu limnologi, F. A. Forel (1892) menyatakan bahwa limnologi adalah oseanografi danau atau hidrobiologi perairan tawar. Edgardo Baldi, pakar Limnologi asal Itali terkenal menempatkan Limnologi terpisah dari disiplin ilmu yang lain, derngan mendefenisikan Limnologi sebagai ilmu yang mempelajari hubungan dari proses-proses dan metode, dimana bahan serta energi ditransformasikan dalam suatu danau.

1.2. Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari praktikum mengenai Pengukuran Debit Air adalah agar mahasiswa dapat mengukur debit air dengan menggunakan beberapa metode untuk mengukur debit air seperti Emboys Float Method dan Cara Kecepatan – Luas.
Manfaat praktikum ini bagi mahasiswa adalah dapat mempraktekkan dan menerapkan secara langsung terjun ke lapangan dengan menentukan cara pengukuran debit air dengan metode – metode yang ada.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Air adalah zat yang mengelilingi semua organisme dan merupakan bagian-bagian terbesar pembentuk tumbuh-tumbuhan dan binatang air (Nybakken, 1982). Kualitas air dan kuantitas air suatu perairan yang sangat dipengaruhi parameter fisika, kimia, biologi (Bishop, 1973).
Waduk atau danau buatan adalah genangan air yang terbentuk karena pembendungan aliran air bukan alami (man made lake) pembendungan ini dapat mengubah ekosistem perairan mengalir (lotik) menjadi ekosistem perairan tergenang (lentik) yang akan mempengaruhi kehidupan biota asal (Sihotang, 1988). Uktoselya (1991) menyatakan bahwa Arus merupakan suatu gerakan air yang mengakibatkan perpindahan horizontal dan vertikal masa air.
Umumnya ciri-ciri danau buatan ini adalah adanya fluktuasi tinggi permukaan air dan tingginya turbiditas air (Koesoebiono, 1997), selanjutnya Siagian (1997) mengemukakakan bahwa pada waduk terjadi fluktuasi air masuk dan air keluar sehingga ada pergantian nutrien yang menyebabkan produksi primer pada waduk lebih besar dibandingkan dengan danau.
Nybakken (1992) menambahkan masa air permukaan gerakannya dipengaruhi oleh angin, sedangkan untuk masa air dalam dipengaruhi oleh perubahan air permukaan. Sebelumnya Hutabarat dan Evans (1985) menyatakan bahwa arus berperan penting dalam proses abrasi pantai dan penyebaran polutan atau unsur lain. Said, Panjaitan, dan Syafriadiman (1993) selanjutnya menjelaskan bahwa gerakan masa air ini dipengaruhi oleh angin tekanan dan adanya pasang surut serta keadaan topografi.
Arus ditandai oleh adanya arah, kecepatan serta gerakannya secara horizontal. Untuk dapat membedakan mecam-macam arus, perlu ditentukan suatu klasifikasi arus antara lain menurut Pardjaman (1977) adalah : 1. segi tenaga penyebabnya, 2. letak terhadap kedalaman air, 3. sifat-sifat gerakannya, 4. parameter fisika dan kimianya, 5. kestabilan arah.
Arus akan dipengaruhi oleh topografi dasar perairan, oleh karena itu distribusi fraksi sedimen akan sangat tergantung dari bentuk dasar perairan terutama keadaan kedalaman perairan mempengaruhi bentuk dan pola arus (Pangabean, 1994).
Kecepatan dan arus tidak selalu mengikuti pola tertentu, hal ini disebabkan kondisi perairan muara yang sangat kompleks dan merupakan kombinasi dari beberapa faktor. Mc. Dowel dan O’ Connor (1977) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pola arus di perairan muara diantaranya adalah pasang surut dan arus limpasan air sungai.
Penentuan debit air sungai diperlukan untuk mengetahui besarnya air yang mengalir dari sungai ke laut. Dalam penentuan debit air sungai perlu di ketahui luas penampang stasiun, yaitu dengan mengukur kedalaman, masing-masing titik pengukuran (Ongkosongo, 1980)





















III. METODE PRAKTIKUM


3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum yang berjudul “Pengukuran Debit Air” ini dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 28 Oktober 2011 pukul 14.00 WIB sampai dengan selesai. Bertempat di Waduk dan di Laboratorium Limnologi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau.

3.2. Bahan dan Alat
Bahan dan alat yang digunakan dalam praktikum adalah meteran, bola pimpong, pena, pensil, penggaris, tali plastik, dan buku penuntun, dan papan 90 north weir.

3.3. Metode Praktikum
Metode praktikum yang digunakan adalah metode pengamatan secara langsung terhadap objek di waduk Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau Pekanbaru. Sedangkan pengolahan data dilakukan di laboratorium Limnologi.

3.4. Prosedur Praktikum
Praktikum ini dilakukan langkah-langkah kerja sebagai berikut: menentukan lokasi, mengukur panjang selokan yang akan diukur kecepatannya, mengukur waktu yang digunakan untuk menempuh jarak yang telah di tentukan, menetukan konstanta yang digunakan dengan melihat keadaan dasar perairan, membentuk daerah yang akan di lalui bola pimpong dengan menggunakan tali plastik, mengukur kedalaman rata-rata yang di lalui bola pimpong.





IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Hasil
Di bawah ini didapatkan hasil perhitungan pengukuran debit air dengan memakai metode antara lain:
4.1.1 Emboys Float Method
Rumus yang digunakan:
R = WDAL/T
Dik : Lebar I : 1,04 m
Lebar II : 1,03 m
Lebar III : 1,05 m
Rata-rata lebar (W) : 1,04 + 1,03 + 1,05
3
: 1,04 m
Kedalaman I : 0,56 m = 56 cm
Kedalaman II : 0,61 m = 61 cm
Kedalaman III : 0,46 m = 46 cm
Rata-rata kedalaman (D) : 0.56 + 0.61 + 0.46
3
: = 0.51 m
Debit air (R) untuk t : 62 detik
Jarak yang ditempuh pelampung : 3000 cm = 3 m

R = WDAL/T
= 1,04 x 0,51 x 0.8 x 3
62

= 0,02 m3/detik




4.1.2 Metode Weir
Metode weir yang digunakan adalah 90 North weir. Dengan menggunakan rumus :


Terlebih dahulu mencari sisi segitiga pada 90 north Weir dengan cara : pada sisi miring segitiganya ukuran 3 cm dan sisi mendatarnya ukuran 0,5 cm.
90 North Weir : Q = 2,5 H 5/2

= 2,5 x 5,9 5/2

= 2,5 x 84,55

= 211,38
4.2. Pembahasan
Menurut Sachlan (1980) perairan umum merupakan sumberdaya yang mempunyai potensi besar baik bagi perikanan maupun untuk kehidupan manusia. Air merupakan bagian yang esensial dari protoplasma dan dapat dikatakan bahwa semua jenis makhluk hidup bersifat aquatic.
Menurut Swingle (1968) waduk adalah suatu perairan tergenang dan mempunyai tingkat kesuburan perairan yang dipengaruhi oleh partikel-partikel baik dari luar maupun dari dalam. Waduk Faperika merupakan daerah genangan air yang terbentuk karena pembendungan air sungai tadah hujan bukan alami. Waduk sebagai salah satu perairan umum yang juga merupakan wilayah perikanan yang perlu dikelola dengan baik agar keberadaaannya dapat dimanfaatkan sebagaimana fungsinya.
Pengukuran debit air sungai sangat diperlukan untuk mengetahui besarnya volume air yang mengalir dari sungai ke laut. Dalam Pngukuran debit air sungai perlu di ketahui luas penampang stasiun, yakni dengan mengukur kedalaman, masing-masing titik pengukuran (Ongkosongo, 1980)
Kecepatan dan arus pada sungai tidak selalu mengikuti pola tertentu, mengapa? Hal ini disebabkan kondisi perairan muara yang sangat kompleks dan merupakan kombinasi dari beberapa faktor. Mc. Dowel dan O’ Connor (1977) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pola arus di perairan muara diantaranya adalah pasang surut dan arus limpasan air sungai.
Arus merupakan suatu gerakan air yang mengakibatkan perpindahan horizontal massa air. Untuk massa air permukaan gerakan dipengruhi moleh angin. Fenomena pergerakan ini terjadi seriap hari dari waktu ke wakti dan dari satu tempat ke tempat lainnya.Arus berperan penting dalam abrasi dan penyebaran polutan atau arus lainnya. (Hutabarat dan Evans, 1985).
Waduk Faperika nerupakan satu-satunya waduk yang ada di kampus Faperika UNRI. Waduk ini terbentuk akibat pembendungan air sungai yang melintasi daerah Faperika. Pada pengukuran debit air yang di lakukan dialiran waduk Faperika di ketahui bahwa dengan menggunakan metode Emboys Float Method didapatkan hasil 0,0010 m3/detik. Sedangkan besar debit air bila menggunakan metode weir didapat hasil sebesar 0,4531 m3/s.





V. KESIMPULAN DAN SARAN



5.1. Kesimpulan
Dari praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa Waduk Faperika merupakan daerah genangan air yang terbentuk karena pembendungan air sungai tadah hujan bukan alami. Waduk sebagai salah satu perairan umum yang juga merupakan wilayah perikanan yang perlu dikelolah dengan baik agar keberadaaannya dapat dimanfaatkan sebagaimana fungsinya. Bahwa kini besar debit air yang mengalir pada saluran pengeluaran waduk menurut Metode Weir 211,38 m3/s untuk Emboys Float Method 0,02 m3/detik dengan Cara Kecepatan- Luas didapat hasil sebesar.

5.2. Saran
Dari praktikum yang telah dilaksanakan hendaknya data yang di ambil dalam pengukuran haruslah secara sempurna. Selain itu sebelum melakukan praktikum para praktikan hendaknya sudah menguasai bahan-bahan materi yang akan dipraktikumkan sehingga memudahkan untuk pemahamannya.










DAFTAR PUSTAKA


Adriman. 2002. Kualitas Dan Distribusi Spasi Karakteristik Fisika Kimia Perairan Sungai Sulir Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Bengkalis. Berkala Perikanan Terubuk ISSN 0126-4265 Vol. 29, No. 2.

Asdak, C. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjamada University : Jogjakarta. 618 hal.

Clark,J.,R,. 1994. Phytoplankton. Edwar Amild Ltd. London. 115 pp.

Fauzi. 1996. Kumpulan Istilah Perikanan. Lembaga Yayasan Informasi dan Kajian. Pekanbaru. 203 hal. (tidak diterbitkan)

Hehanusa, P.E., dan Haryani, G.,s. 2001. Kamus Limnologi (Perairan Darat). Panitia Nasional Program Hidrologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.230 hal.
Mahida, U.N. 1984. Pencemaran Air Dan Pemanfaatan Limbah Industri. Rajawali : Jakarta. 543 hal.

Odum. 1971. Fundamentalis Of Ecologi. 3rd Ed. W. B. Sounders Comp. Philadelphia. 574 pp


Sachlan,M. 1980. Planktonologi. Diktat Perkuliahan Planktonologi. Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan UNRI : Pekanbaru. 63 hal.

Sihotang, C,.1988. Limnologi II. Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan UNRI : Pekanbaru. 64 hal.

Sihotang,C. dan Efawani. 2006. Penuntun Praktikum Limnologi. Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan UNRI : Pekanbaru. 26 hal.

Swingle, A.,S. 1968. Standarization Of Chemical And Analysis For Water And Pond Fish Culture. Fisher Report 44 (4) 397-421 pp.









KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis telah dapat menyelesaikan hasil laporan praktikum mengenai “Penentuan Debit Air” ini tepat pada waktu yang telah ditentukan.
Tidak lupa penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada para asisten Biologi Perikanan karena telah memberikan arahan dan bimbingan sehingga laporan ini dapat disusun.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini terdapat kekurangan baik dari segi penyusunan, bahasa serta materi yang terdapat di dalamnya. Oleh karena itu penulis menerima kritikan yang sifatnya membangun demi kesempurnaan laporan praktikum di masa yang akan datang. Semoga laporan praktikum ini bermanfaat bagi kita semua.







Pekanbaru, 03 Oktober 2011


Muhammad Zaki

DAFTAR ISI

Isi Halaman
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
DAFTAR LAMPIRAN iii
I. PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Tujuan dan Manfaat 2

II. TINJAUAN PUSTAKA 3
III. METODE PRAKTIKUM 5
3.1. Waktu dan Tempat 5
3.2. Bahan dan Alat 5
3.3. Metode Praktikum 5
3.4. Prosedur Praktikum 5
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 6
4.1. Hasil 6
4.2. Pembahasan 7
V. KESIMPULAN DAN SARAN 9
5.1. Kesimpulan 9
5.2. Saran 9
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN











LAMPIRAN
























Nama Asisten: Amat
Hari/kelompok: Jumat/II/sesi II


LAPORAN PRAKTIKUM LIMNOLOGI

PENGUKURAN DEBIT AIR


OLEH

Muhammad Zaki
1004114509
Manajemen Sumberdaya Perairan



















LABORATORIUM LIMNOLOGI
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2011

Laporan Biola

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Lautan di dunia merupakan kesatuan ekosistem dimana serangkaian komunitas dapat mempengaruhi faktor-faktor fisik dan kimia air laut di sekelilingnya. Ekosistem yang besar ini dapat dibagi menjadi daerah-daerah kecil dimana parameter fisika dan kimia mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap populasi dari daerah tersebut (Nybakken, 1998).Laut, seperti halnya daratan, dihuni oleh biota, yakni tumbuhan-tumbuhan hewan dan mikroorganisme hidup.
Biologi laut, yakni ilmu pengetahuan tentang kehidupan biota laut, berkembang begitu cepat untuk mengungkap rahasia kehidupan berbagai jenis biota laut yang jumlah jenisnya luar biasa besarnya dan keanekaragaman jenisnya luar biasa tingginya.Tingginya, keanekaragaman jenis biota di laut barangkali hanya dapat ditandingi oleh keanekaragaman jenis biota di hutan hujan tropik di darat.
Secara geografi Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan dengan kekayaan sumber daya alam laut yang berpotensi untuk dimanfaatkan secara lestari. Sumber daya alam laut tersebut antara lain terdiri atas berbagai jenis ikan, moluska,dan krustase. Masyarakat pesisir sejak lama telah memanfaatkan sumber daya alam laut tersebut sebagai sumber makanan, mineral, obat-obatan, dan energi (Gordon 2000,South & Skelton,2000).
Biota Laut menghuni hampir semua bagian laut, mulai dari pantai permukaan laut sampai dasar laut yang terjeluk sekalipun. Keberadaan biota laut ini sangat menarik perhatian manusia, bukan saja karena kehidupannya yang penuh rahasia, tetapi juga karena manfaatnya yang besar bagi kehidupan manusia. Pemanfaatan biota laut yang makin hari makin meningkat dibarengi oleh kemajuan pengetahuan tentang kehidupan biota laut yang tertampung dalam ilmu pengetahuan alam laut yang dinamakan biologilaut (marine biology).
Tidak kurang dari 833 jenis tumbuh-tumbuhan dilaut (alga, lamun dan mangrove), 910 jenis karang (Coelenterata), 850 jenis spon (Porifera), 2500 jenis kerang dan keong (Mollusca), 1502 jenis udang dan kepiting (Crustacea),745 hewan berkulit duri( Echinodermata), 2000 jenis ikan ( Pisces), 148 jenis burung laut (Aves), dan 30 jenis hewan menyusui (Mammalia), diketahui hidup di laut. Di samping itu tercatat juga tujuh jenis penyu dan tiga jenis buaya (Reptilia). ((Romimohtarto, 2005)
Laut adalah bagian dari bumi kita yang tertutup oleh air asin. Kata laut sudah dikenal sejak dulu kala oleh bangsa kita dan bahkan oleh bangsa-bangsa di beberapa. Negara di Asia Tenggara. Laut lepas yang luas dibatasi oleh benua-benua kita kenal sebagai samudra.
Secara ekologis terdapat fenomena dinamis seperti: abrasi, akresi, erosi, deposisi dan intrusi air laut. Di samping itu, masih terdapat juga fenomena nonalamiah seperti: pembabatan hutan mangrove untuk pertambakan, pembangunan dermaga/jetty untuk pendaratan ikan dan reklamasi pantai. Gejala yang umum terjadi di wilayah kepesisiran adalah interaksi faktor alam dan aktivitas manusia secara bersamaan, sebagai penyebab adanya ketidakseimbangan siklus biogeokimia (Cook dan Doornkamp, 1990).
Untuk itu dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan tekonologi manusia mulai menyadari pentingnya laut dan potensi sumber daya di dlamnya. Birowo (1991), mengemukakan bahwa laut bermanfaat sebagai sumber atau media seperti sebagai pangan, transportasi, sumber mineral, bahan baku, industri, bahari, tambang, pertahanan dan keamanan, sumber energi, pemukiman, pariwisata dan tempat limbah.

1.2. Tujuan
Dengan dilaksanakannya praktikum lapangan tersebut, diharapkan mahasiswa tidak hanya dapat mengenal berbagai objek studi dalam mata kuliah Biologi Laut tersebut secara teoritis (baik morfologi maupun anatominya) tetapi juga secara langsung (melalui identifikasi langsung). Ditambah juga dapat mengenal habitat dan kebiasaan hidup objek tersebut di alam. Ini sangat penting, mengingat dalam penelitian akhir mahasiswa dituntut mampu melakukan berbagai prosedur penelitian secara mandiri.
Manfaat praktikum adalah untuk menambah pengetahuan dan wawasan praktikan, untuk mendapatkan data dan informasi mengenai organisme laut terutama yang hidup di daerah pantai.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Lingkungan laut sangat luas cakupannya dan sangat majemuk sifatnya. Karena luasnya dan majemuknya lingkungan tersebut, tiada satu kelompok biota laut pun yang mampu hidup di semua bagian lingkungan laut tersebut dan segala kondisi lingkungan yang majemuk. Mereka dikelompok-kelompokkan oleh pengaruh sifat-sifat lingkungan yang berbeda-beda kedalam lingkungan yang berbeda pula. Para ahli oseanologi membagi-bagi lingkungan laut menjadi zona-zona atau mintakat-mintakat menurut criteria-criteria yang berbeda-beda. (Romimohtarto, 2001)
Menurut Dahuri (2003) zona intertidal atau zona litoral adalah daerah pantai yang terletak diantara pasang tertinggi dan surut terendah, daerah ini mewakili daerah peralihan dari kondisi lautan ke kondisi daratan (ecoton), dan memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi seperti estuaria.
Menurut J. C. Bribbs (1974) zona interdal atau zona litoral adalah daerah kawasan pantai yang terletak antara pasang laut tertinggi dan pasang surut terendah. Litoral adalah daerah yang terletak diantara daratan dan lautan yang masih dipengaruhi oleh air pasang yang dikenal sebagai pantai laut (sea shore).
Epifauna adalah hewan yang hidup di atas permukaan substrat sedimen atau tanah (Dahuri, 2003). Khusus pada zona intertidal, hewan-hewan yang hidup di atas permukaan pasir (epifauna) lebih sedikit di jumpai di bandingkan dengan daerah subtidal (Wardiyatmoko dan Eka Sudarba, 1992). Umumnya kelomppok epifauna tergolong grazer yaitu pemakan permukaan substrat (Dahuri, 1996).
Infauna adalah hewan yang hidup didalam sedimen atau dibawah substrat (Dahuri, 1996). Organisme penghuni intertidal merupakan organisme air yang selalu berlindung dengan baik dari kekeringan di pantai yang berpasir lebih halus dari pada yang berpasir kasar atau kerikil (Tim Geografi, 1999).
Odum (1971) menyatakan bahwa perkembangan maksimum dari epifauna dijumpai di daerah pasang surut, tetapi dapat juga meluas di daearah yang lebih dalam. Sedangkan infauna mencapai perkembangan yang maksimum di daerah yang lebih dalam dari epifauna. in-fauna yaitu yang hidup didalam sedimen; dan epi-fauna yaitu yang hidup menempel pada daun-daun/ rumput laut dan di atas dasar laut.
Komunitas fauna bentik terdiri dari lima kelompok, yaitu Mollusca, Polychaeta, Crustacea, Echinodermata dan kelompok lain yang terdiri dari beberapa takson kecil Sipunculidae (owak-owak ), Pognophora dan lain-lain.
Fungia danai adalah pertapa karang, sering ditemukan dengan diameter melebihi kaki yang melintasi. Fungia yang dirancang unik, berbentuk kubah sedikit alami yang mungkin ada "peot" atau dilipat ujungnya. Semua pada umumnya cembung di atas dan agak cekung di bagian bawah. Sebagian besar ditemukan pada puing-tercakup dalam air dangkal. Berwarna dalam hampir setiap warna cerah dari pelangi,. fungia ada polyps yang biasanya tetap sepanjang hari di alam, baru memberi makan pada malam hari. Polyps memperpanjang secara acak (Chadwick, Nanette, 1988).
Nerita costata adalah bahasa Yunani yaitu Nereites atau nerites adalah kata siput laut dari berbagai jenis. Costata berasal dari bahasa Latin kata Costa, memiliki tampilan ribs, atau tulang rusuk. Nerita costata tumbuh dengan panjang antara 20 - 35 mm.. Di luar bibir dan ujung yang tajam (Wilson, B. 1993).
Scylla serrata hidup pada daerah berlumpur, mangrove marshes, dan di mulut sungai estuarine lingkungan (Motoh 1979). Spesies ini asli dengan Indo-Pasifik dan telah diperkenalkan ke Florida, Hawaii, dan di tempat lain, paling sering sengaja dalam upaya untuk membentuk populasi ini spesies komersial penting.
Studi menunjukkan Scylla serrata dewasa menjadi reproductively mulai dari sekitar 90 mm carapace lebar, sering dalam tahun pertama kehidupan (Robertson dan Kruger 1994, Knuckey 1996).Pada molting, laki-laki perempuan lebih menghidupkan dan melakukan persetubuhan, pengiriman spermatozoa non-mobil yang dapat disimpan oleh perempuan sampai ke beberapa bulan ke bulan sebelum digunakan untuk membuahi beberapa kuku-kuku sampai dengan 2 juta telur (Chen 1976).


III. METODE PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum lapangan biologi laut ini telah di laksanakan pada tanggal 07 April 2012 di pantai Cerocok Painan Sumatra Barat.
3.2. Bahan dan Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum biologi laut ini adalah jaring untuk menangkap biota laut, formalin untuk mengawetkan biota yang tertangkap, kamera untuk mendokumentasikan kegiatan serta gambar biota laut, plastik untuk tempat biota laut, alat-alat tulis untuk mencatat hasil tangkapan.
3.3. Metode praktikum
Metode praktikum yang digunakan adalah metode survey yaitu melakukan pengamatan atau mencari langsung biota laut ke lokasi yang telah ditentukan.
3.4. Prosedur Praktikum
Adapun prosedur praktikum ini adalah praktikan langsung turun ke lokasi yang telah ditentukan.Secara kelompok mencari dan mengumpulkan organisme laut sebanyak-banyaknya yang memungkinkan dapat diambil dan diamati.
Semua hasil biota laut yang diperoleh kemudian dimasukkan ke dalam plastik dan diberikan formalin secukupnya untuk mengawetkan biota laut.




IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Melalui identifikasi yang dilakukan di lab didapatkan hasil organisme sebagai berikut :
4.1.1. Sargassum polycystum
Klasifikasi:
Divisi : Phaeophyta
Kelas : Phaeophyceae
Ordo : Fucales
Family : Sargassaceae
Genus : Sargassum
Spesies : Sargassum polycystum
Morfologi
Gulma laut atau rumput laut merupakan salah satu sumber daya hayati yang terdapat diwilayah pesisir dan laut . Istilah "rumput laut" adalah rancu secara botani karena dipakai untuk dua kelompok "tumbuhan" yang berbeda. Dalam bahasa Indonesia , istilah rumput laut dipakai untuk menyebut baik gulma laut dan lamun .
Yang dimaksud sebagai gulma laut adalah anggota dari kelompok vegetasi yang dikenal sebagai alga ("ganggang"). Sumber daya ini biasanya dapat ditemui di perairan yang berasosiasi dengan keberadaan ekosistem terumbu karang . Gulma laut alam biasanya dapat hidup di atas substrat pasir dan karang mati. Di beberapa daerah pantai di bagian selatan Jawa dan pantai barat Sumatera , gulma laut banyak ditemui hidup di atas karang-karang terjal yang melindungi pantai dari deburan ombak. Di pantai selatan Jawa Barat danBanten misalnya, gulma laut dapat ditemui di sekitar pantai Santolo dan Sayang Heulang diKabupaten Garut atau di daerah Ujung Kulon Kabupaten Pandeglang . Sementara di daerah pantai barat Sumatera, gulma laut dapat ditemui di pesisir barat Provinsi Lampung sampai pesisir Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam .
Selain hidup bebas di alam, beberapa jenis gulma laut juga banyak dibudidayakan oleh sebagian masyarakat pesisir Indonesia. Contoh jenis gulma laut yang banyak dibudidayakan di antaranya adalah Euchema cottonii dan Gracilaria spp. Beberapa daerah dan pulau di Indonesia yang masyarakat pesisirnya banyak melakukan usaha budidaya gulma laut ini di antaranya berada di wilayah pesisir Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu , Provinsi KepulauanRiau , PulauLombok , Sulawesi , Maluku dan Papua .
Pada paper ini akan dibahas tentang rumput laut jenis Sargassum polycystum,Sargassum polycystum merupakan salah satu spesies dari makroalga divisi Phaeophyta.
4.1.2. Holothuroidea indica
Klasifikasi:
Kingdom : Animalia
Phylum : Echinodermata
Class : Holothuroidea
Genus : Holothuria
Spesies : Holothuroidea indica
Morfologi
Bagian tubuh teripang dan fungsinya, tentakel : berfungsi sebagai alat gerak ,merasa, memeriksa dan alat penagkap mangsa. Stomach/perut : sebagai alat pencernaan.Gonad : kelenjar kelamin yang berfungsi sebagai penghasil hormon kelamin. Saluran kelamin : Berfungsi sebagai saluran menuju gonad. Madreporit : Lempeng tali lapisan pada ujung saluran air Esofagus : saluran di belakang rongga mulut berfungsi menghubungkan rongga mulut dan lambung. Dorsal mesentery : berfungsi sebagai pembungkus usus dan menggantungnya ke dinding tubuh pinggang. Anus : mengeluarkan sisa metabolisme pada teripang. Cloaca : sebagai alat pencernaan. Intestin : sebagai alat pencernaan yang letaknya di antara pilorus hingga usus.
ciri-ciri:
Bentuk tubuh menyerupai mentimun yang berkulit lunak. Tidak mempunyai lengan dan duri mereduksi menjadi spikula. Daya regenerasi tinggi. Berwarna hitam coklat dan hijau. Dilengkapi alat pembelaan diri berupa zat perekat yang di hasilkan dari anullus. Mulut dan anus terletak pada ujung berlawanan. Mulut dikelilingi oleh tentakel
4.1.3. Corallina sp
Klasifikasi:
Kingdom : Plantae
Divisi : Thallophyta
Sub Divisi : Algae
Classis : Rhodophyceae
Sub Classis : Floridaeae
Ordo : Cryptonemiales
Familia : Cryptonemiaceae
Genus : Corallina
Species : Corallina sp
Morfologi
Corallina sp termasuk dalam classis Rhodophyceae atau ganggang merah, di mana kloroplasnya memgadung klorofil-a dan karotenoid yang tertutup oleh fikoeritrin sehingga nampak merah. Tubuh menyerupai kerak, mengandung kapur dan bersegmen-bersegmen serta talus bercabang menggarpu sehingga masuk dalam sub classis Floridae. Hidup di air laut, dengan cara menempel pada substrat dengan menggunakan rhizoid. Berkembangbiak dengan seksual. Terdapat tiga pergiliran keturunan yaitu gametofit, karposporofit dan tetrasporofit. Ditemukan berjarak sekitar 3 m dari tepi pantai.
4.1.4. Littorina sp
Klasifikasi:
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Ordo : Sorbeoconcha
Family : Littorinidae
Genus : Littorina
Spesies : Littorina sp.
Morfologi
Panjang cangkang 3 cm, dengan ukuran sedang. Bentuk cangkang gulungan benang. Warna cangkang putih kuning sampai coklat. Mulut cangkang berbentuk lonjong sempit denga posterior kanal. Jumlah suture tiga. Garis aksial halus dari puncak ke bawah. Tidak terdapat duri. Permukaan cangkang halus. Puncak cangkang lancip.
4.1.5. Hippopus porcellanus
Klasifikasi:
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Bivalvia
Order : Veneroida
Family : Tidacnidae
Genus : Hippopus
Spesies : Hippopus porcellanus
Morfologi
Hippopus porcellanus adalah jenis Kima kerang yang adalah penduduk umum Indo-Pasifik terumbu karang bentik masyarakat di perairan dangkal. Mereka tinggal di simbiosis dengan fotosintesis dinoflagellata ganggang ( Symbiodinium ) yang tumbuh di mantel jaringan Mereka Sessile di usia dewasa. Pada siang hari, kima membesar sehingga mantel ganggang mereka menerima sinar matahari yang mereka butuhkan untuk photosynthesize, sedangkan pigmen warna melindungi kerang terhadap cahaya yang berlebihan dan radiasi UV. Mereka mendapatkan sebagian besar (70-100%) gizi mereka dari ganggang dan sisanya dari filter makan. Bila terganggu, kerang menutup cangkangnya. Pendapat populer bahwa mereka berbahaya bagi penyelam yang terjebak atau terluka di antara cangkang menutup tajam bermata tidak benar, karena sebagai reaksi penutupan cukup lambat. ukuran besar dan mudah aksesibilitas karena itu mereka mengalami penangkapan yang berlebihan dan keruntuhan dari sediaan alami di banyak tempat dan pemusnahan dalam beberapa spesies
4.1.6. Cerithium rostratum
Klasifikasi:
Phylum : mollusca
Class : Gastropoda
Ordo : Caenogastropoda
Family : Cerithidae
Genus : Cerithium
Spesies : Cerithium rostratum
Morfologi
Cangkang kecil, tinggi mencapai 2 cm, panjang menggelondong, agak tipis dengan terpusar menggembung dan saluran sifon yang panjang dan lurus, struktur dari rusuk sumbu yang tebal yang disilang dengan rusuk spiral halus tak beraturan, membentuk manik-manik pada perpotongannya, tingkat dengan varises rendah, warna putih crem dengan garis spiral coklat halus terputus-putus dan sebuah bintik kecil coklat diatas ujung saluran interior.
4.2. Pembahasan
Gastropoda adalah hewan berukuran relatif besar yang menarik. Pada kelas hewan ini terjadi reduksi menjadi satu ginjal, beberapa jenis hanya memiliki satu insang. Cangkang limpet tidak kelihatan mengulir, meskipun pada tingkat larva, cangkangnya ulir yang kemudian hilang setelah menjadi dewasa.
Mulut dengan radula yang mempunyai deretan-deretan gigi kitin kecil melintang. Sistem sirkulasi mencakup jantung sebelah punggung dengan satu atau dua aurikel atau rongga atas dan satu ventrikel atau rongga bawah. Pernapasan dilakukan oleh satu atau banyak insang yang disebut ctenidium. Ekskresi oleh ginjal yang disebut nefridia, terdiri dari satu atau dua atau hanya satu saja. ((Romimohtarto, 2005).
Filum Echinodermata bentuk simetri meruji hanya terdapat pada dewasa, pada larva, bentuknya simetri bilateral. Arthropoda merupakan kelompok terbesar diantara seluruh dunia hewan. Namanya berasal dari kakinya yang bersendi. Sifat umum kelas ini mencakup kerangka luar keras dari kitin, yakni polisakarida majemuk, suatu jenis karbohidrat. Cangkang ini dihasilkan oleh epidermis dan karena sifatnya yang tak elastis jika mengeras, ia harus ditanggalkan secara berkala untuk memungkinkan hewan tumbuh. Sifat umum yang terpenting yang berlaku untuk semua anggota kelompok Arthropoda dan khas filum ini ini ialah. adanya embelan tubuh yang bersendi dan bebas dari bulu getar. Bentuk tubuhnya simetri bilateral dan tubuhnya terdiri dari ruas-ruas yang tersusun secara linier berurutan.
Sargassum polycystum merupakan sumber penghasil alginat. Alginat merupakan polimer organik yang tersusun dari dua unit monomer yaitu L-asam guluronat dan D-asam manuronat. Polimer alginat yang bersifat koloid, membentuk gel, dan bersifat hidrofilik menyebabkan senyawa ini dimanfaatkan sebagai emulsifying agent, thickening agent, dan stabilizing agent.
Begitu juga dengan Sargassum polycystum , tumbuhan ini dapat menghasilkan alginat dimana yang memiliki tekstur yang kenyal dan lebih sesuai untuk dimanfaatkan dalam kosmetik ataupun penggunaan sebagai moisturizing, Selain itu Sargassum mengandung senyawa untuk anti-bakteri, anti-tumor, anti-tekanan darah tinggi, mengatasi gangguan kelenjar, dan penyakit gondok.
Pada Holothuroidea umumnya alat reproduksi terpisah, kecuali beberapa jenis, ada yang hermafrodit. Sel telur maupun sperma dikeluarkan ke air laut, dan selanjutnya terjadi fertilisasi yang menghasilkan zigot. Zigot tumbuh menjadi larva aurikularia (Pratiwi,2004).
Hippopus porcellanus adalah jenis Kima kerang yang adalah penduduk umum Indo-Pasifik terumbu karang bentik masyarakat di perairan dangkal. Mereka tinggal di simbiosis dengan fotosintesis dinoflagellata ganggang ( Symbiodinium ) yang tumbuh di mantel jaringan Mereka Sessile di usia dewasa. Pada siang hari, kima membesar sehingga mantel ganggang mereka menerima sinar matahari yang mereka butuhkan untuk photosynthesize, sedangkan pigmen warna melindungi kerang terhadap cahaya yang berlebihan dan radiasi UV. Mereka mendapatkan sebagian besar (70-100%) gizi mereka dari ganggang dan sisanya dari filter makan. Bila terganggu, kerang menutup cangkangnya. Pendapat populer bahwa mereka berbahaya bagi penyelam yang terjebak atau terluka di antara cangkang menutup tajam bermata tidak benar, karena sebagai reaksi penutupan cukup lambat. ukuran besar dan mudah aksesibilitas.  
V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Dari praktikum biologi laut yang dilakukan dapat diketahui bahwa tingkat keragaman organisme namun klimpahannya tinggi. Hal ini dapat terlihat ketika pengambilan organisme-organisme laut yang disepanjang daerah pantai Carocok hanya beberapa spesies tertentu yang dapat ditemukan dan jumlahnya banyak. Banyaknya spesies tertentu dapat diperkirakan disebabkan oleh tempat hidup organisme-organisme laut terssebut sangat mendukung sebagai habitat hidupnya.
5.2. Saran
Dalam laporan ini penulis memberikan saran bagi praktikan sebaiknya langsung menyelesaikan tugasnya ketika di lapangan dan waktu yang tersisa dapat dimanfaatkan dengan kegiatan lainnya sehingga tujuan awal praktikum itu tetap terlaksana. Selain itu penulis berharap agar buku identifikasi organisme-organisme laut lebih dilengkapi lagi sehingga mempermudah para praktikan dalam mengidentifikasi organisme sampel yang telah didapat.




DAFTAR PUSTAKA
Dahuri, R. 1996. Penerapan Konsep Pembangunan Berkelanjutan Dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam Wilayah Pesisir dan Lautan. Bogor
Dahuri, R. 2003. Keanekaragaman Hayati Laut. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
http://lovechopin.wordpress.com/2010/02/14/sargassum-polycystum/
http://www.sith.itb.ac.id/herbarium/index.php?c=herbs&view=detail&spid=229817
Nybakken, j. W., 1988. Biologi Laut suatu pendekatan ekologis. Terjemahan penernit PT. Gramedia. Jakarta.
GordonAL.2000.“Ocean”Discoverychannelschool.http://www.discoveryschool.com/homeworkhelp/worldbook/atozgeography/o/3987.html, diakses 10 Mei 2002.
Rimimohtartao, Kasijian. 2001, Biologi Laut, Pengetahuantentang biota laut, Djambatan, Jakarta. 540 hal
Cooke, R.U. and J.C. Doornkamp. 1990. Geomorphology in Environmental Management. 2nd ed. New York, USA: Oxford Univ. Press, inc.
(Eric Hugo@aol.com).
Birowo, s. 1991. Pengantar Oseanografi dalam J. H. KUNARSO dan RUYITNO (eds). Status pencemaran laut di Indonesia dan teknik pemantauannnya. LIPI-Jakarta.
Chadwick, Nanette.1988. Competition and locomotion in a free-living fungiid coral. J. Exp. Mar. Biol. Mar Biol. Ecol 123: 189-200.







LAMPIRAN






Lampiran 1: Alat dan bahan praktikum






Jaring kantong plastik





Formalin kotak ice box











Lampiran 2 : Gambar biota yang ditemukan

Holothuroidea indica. Hippopus porcellanus

Sargassum polycystum Corallina sp


Littorina sp Cerithium rostratum























 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India