1.1 Latar Belakang.
Plankton bisa menghasilkan oksigen di perairan dan merupakan makanan bagi organisme – organisme lainnya seperti ikan dan udang. Itu sebabnya plankton sangat berperan bagi kelangsungan hidup organisme di perairan. Melimpahnya plankton di suatu perairan bisa kita jadikan sebagai penentu tercemar tidaknya suatu perairan, sebab salah satu organisme yang sensitive terhadap bahan kimia adalah plankton.
Air adalah suatu zat pelarut yang bersifat yang sangat berdaya guna,yang mampu melarutkan zat-zat lain dalam jumlah besar dari pada zat cair lainnya.Sifat-sifat ini dapat dilihat dari banyak unsur-unsur pokok yang terdapat dalam air laut (Hutabarat, S dan S.M. Evans. 1985. Pengantar Oceanografi. UI Press. Jakarta).
Masing-masing habitat mempunyai ciri-ciri tersendiri dan adanya perubahan lingkungan dimana habitat itu tinggal, maka akan menyebabkan jumlah jenis dari kelimpahan organisme yang hidup di dalamnya berbeda-beda. Walaupun mempunyai lingkungan hidup yang berbeda-beda, tetapi pada masing-masing habitat tersebut terdapat interaksi antara factor biotik dan abiotik.
Perairan umum adalah bagian permukaan bumi yang secara permanen atau berkala digenangi oleh air, baik air tawar, air payau, maupun air laut, mulai dari garis pasang surut terendah ke arah daratan dan badan air tersebut terbentuk secara alami ataupun buatan (UU No. 7, 2004).
Perairan umum meliputi sungai, sungai mati (oxbow lake), lebak-lebung (floodplain), saluran irigasi, kanal, estuaria, danau, situ, waduk, rawa, goba (lagoon), genangan air (telaga, embnung, kolong-kolong, dan legokan-legokan) (Penuntun Pratikum Ekologi Perairan, 2010).
Kualitas suatu perairan sangat berpengaruh terhadap kemampuan produktifitas fitoplankton, penurunan kualitas perairan akan menyebabkan penurunan kelimpahan fitoplankton yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kelayakan suatu perairan untuk kegiatan perikanan.
Rendahnya tingkat produktivitas di perairan pada umumnya berhubungan dengan tingkat atau cara pengeloaan yang baik.Cara ini membahayakan kelestarian populasi ikan di perairan tersebut.Akibat tidak adanya perhitungan sama sekali mengenai populasi ikan pada tahun-tahun berikut (Odum, E.P.,1971. Fundamental of Ecology. Third Ed.,W.B. Saunders&Co.,Philadelphia)
1.2. Tujuan Pratikum
Tujuan diadakan praktikum ini adalah mahasiswa dapat melihat dan mengamati serta mengetahui bagaimana keadaan perairan yang terdapat di waduk Fakultas Perikanan Universitas Riau dengan melakukan berbagai penelitian. Sehingga mahasiswa dapat mengetahui kategori-kategori perairan yang masih baik atau yang sudah tercemar.
Manfaat diadakannya praktikum ini yaitu setiap mahasiswa dapat langsung terjun kelapangan serta dapat langsung melihat atau mempraktekan bagaimana cara meneliti perairan sehingga dapat diketahui apakah perairan tersebut masih baik atau sudah tercemar.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Istilah plankton pertama kali digunakan oleh Hensen dalam Odum (1971), berasal dari bahasa Yunani yaitu Planktos yang artinya mengembara atau berkeliaran. Menurut Boney dalam Krebs (1985), plankton tersusun atas jasad-jasad hewani mikroskopis (phytoplankton) dan jasad-jasad hewani (zooplankton) yang terdapat di laut maupun air tawar, hidup bebas terapung, dan pergerakannya bersifat pasif tergantung adanya arus dan angin (Kasry, Adnan.dkk. 2010. Penuntun Pratikum Ekologi Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Pekanbaru).
Sebagai produsen utama, plankton memegang peranan penting dalam jaringan makanan di semua perairan baik perairan pantai maupun lepas pantai. Plankton yang umumnya dikenal umumnya terbagi atas fitoplankton dan zooplankton yang merupakan dasar awal dari semua jaringan makanan, dapat langsung dimanfaatkan oleh biota-biota yang hidup di perairan. Fitoplankton berperan sebagai pembuat makanan, dimanfaatkan oleh zooplankton dan selanjutnya zooplankton dimakan oleh ikan-ikan kecil sebagai konsumen berikutnya. Fitoplankton diatom adalah komponen kunci dari ekosistem akuatik yang sangat berperan dalam jarring makanan (Lamberti,1996).
Phytoplankton merupakan tumbuhan air yang sangat kecil yang terdiri dari beberapa kelas ,yag sangat tergantung pada cahaya matahari terdapat pada permukaan air sampai kedalaman penetrasi cahaya matahari.Dan phytoplankton ini merupakan produsen utama(Primery producer) zat-zat organik yang komplek dari bahan-bahan organik dan dari bahan anorganik yang sederhana melalui proses fotosintesis (Siagian, M. 2004. Diktat Kuliah dan Penuntun Ekologi Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru. 94 hal).
Plankton mempunyai masa aktif yang mirip dengan organisme tingkat tinggi, dimana untuk phytoplankton akan terdapat dalam jumlah yang besar pada siang hari dan zooplankton pada malam hari. Untuk itu sampling phytoplankton terbaik pada sore hari antara pukul 13.00 WIB sampai 15.00 WIB. Sampling zooplankton dapat dilakukan pada senja hingga malam hari, beberapa jam setelah peledakan populasi phytoplankton. Beberapa contoh phytoplankton antara lain Spirulina sp, Nitzchia sp, dan Coelastrum sp (Kasry, Adnan.dkk. 2010. Penuntun Pratikum Ekologi Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Pekanbaru).
Berdasarkan hasil identifikasi zooplankton, berhasil diidentifikasi 53 taksa (hampir semuanya genus) beberapa diantaranya merupakan kelompok zooplankton yang predominan. Kelompok zooplankton yang predominan yaitu Copepoda, Urochordata, dan meroplankton.
Copepoda merupakan kelompok zooplankton yang predominan dengan prosentase paling tinggi mencapai 78.28%, rata-rata 67.44%; diikuti urochordata 24.77%, rata-rata 13.42%, dan meroplankton dengan prosentase mencapai 24.69%, dengan rata-rata 11.65%. Acartia, Paracalanus, Corycaeus, Onchaea, larva Copepoda, larva Decapoda, larva Echinodermata dan telur ikan banyak terdapat disemua stasiun pengambilan contoh. Beberapa taksa keberadaannya teridentifikasi hanya pada stasiun tertentu saja, misalnya Macrosetella, Oikopleura, Tortunus, dan Thalia hanya terdapat di stasiun 10.
Menurut Sachlan (1980) plankron adalah jasad – jasad renik yang melayang – laying di air, yang pergerakannya selalu mengikuti arus. Plankton ini dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu fitoplankton dan zooplankton.
III. METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat.
Praktikum ini dilakasanakan pada hari sabtu tanggal 3 Desember 2011, Pukul 11.00 WIB – selesai di Laboratorium Limnologi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Riau. Pekanbaru.
3.2 Bahan dan Alat
Pada praktikum “kelimpahan Plankton di perairan ” menggunakan beberapa peralatan antara lain: plankton net, mikroskop, gelas objek. cover glass, pipet tetes, pena, dan pensil.
Sedangkan bahan yang digunakan adalah air contoh yang di dalamnya mengandung plankton.
3.3 Metode Pratikum
Metode yang digunakan pada praktikum kali ini adalah metode pencacahan secara acak dan metode Lackey drop microtransect counting.
3.4. Prosedur Praktikum
Mengambil air sample yang sudah di awetkan, air sample di ambil dari perairan waduk FAPERIKA. Kemudian meletakkan beberapa tetes air ke atas objekglass dan di tutup dengan coverglass dan mengamatinya di bawah mikroskopis.
Menggambarkan plankton yang di lihat ke dalam lembaran kerja praktikum dan menghitung berapa banyak plankton dari satu spesies dengan menggunakan cara sapuan. Kemudian mengindentifikasi plankton tersebut, termasuk kedalam spesies apa.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Dari hasil praktikum minggu lalu kami memperoleh hasil jenis plankton yang kami dapat adalah Eremosphaera, Sphaerachystys, Lyngbia sp, Botryococcus, Trebancia, Ceratium strittum, Scenedesmus, Gleocapsa, Ankistrodesmus, Maugeotia.
jenis plankton Lapangan pandang ke.. Jlh total sel. Jlh rata-rata
1 2 3 4 5 6 7 8 9 seluruh lapang pandang sel/lap. Pandang (n)
Eremosphaera 1 1 0,1
Sphaerachystys 4 1 3 2 1 1 12 1,3
Lyngbia sp 2 2 0,2
Botryococcus 1 1 1 3 0,3
Trebancia 1 1 1 3 0,3
Ceratium strittum 1 1 0,1
Scenedesmus 1 1 2 0,2
Gleocapsa 1 1 1 3 0,3
Ankistrodesmus 1 1 0,1
Maugeotia 1 1 2 0,2
Tabel 1. Kelimpahan plankton di bawah masing-masing Lapangan Pandang.
4.2 Pembahasan
Dari nilai-nilai indeks keragaman jenis yang kita peroleh dapat menjadi penentu kualitas lingkungan perairan tempat diambilnya air sampel dan sebaran individu organisme yang ada pada suatu ekosistem yaitu sebagai berikut.
Menurut Wilhm dan Dorris (dalam Odum, 1971), perairan mengalami pencemaran ringan karena nilai H’ antara 1 s/d 3 (Kasry, Adnan.dkk. 2010. Penuntun Pratikum Ekologi Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Pekanbaru).
Menurut Staub et al dalam Wilhm (dalam Odum, 1971), tingkat pencemaran perairan sedang karena nilai H’ antara 1 s/d 2,0 (Kasry, Adnan.dkk. 2010. Penuntun Pratikum Ekologi Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Pekanbaru).
Menurut Shannon Weiner (dalam Odum, 1971), perairan memiliki keragaman sedang dengan sebaran individu sedang karena nilai H’ antara 1,0 s/d 3,0 (Kasry, Adnan.dkk. 2010. Penuntun Pratikum Ekologi Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Pekanbaru).
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Dari hasil pratikum ini didapatkan bahwa waduk Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau memiliki sebaran individu sedang (keragamannya sedang) berarti perairan tersebut mengalami tekanan (gangguan) yang sedang atau struktur komunitas organisme yang sedang. Selain itu, tidak ada jenis organisme yang mendominasi di waduk serta keseragaman organisme dalam waduk berada dalam keadaan seimbang berarti tidak terjadi persaingan baik terhadap tempat maupun terhadap makanan.
5.2. Saran
Adapun saran-saran yang diberikan antara lain adalah diadakannya pembersihan di sekeliling maupun di dalam waduk. Mengingat banyak dari sampah-sampah yang terdapat di luar dapat masuk ke dalam perairan dan berakibat bertambahnya kadar kekeruhan (turbidity) perairan dan padatan tersuspensi (TSS) perairan tersebut. selain itu diperlukannya tumbuhan yang lebih banyak di sekitar perairan agar kadar oksigen dapat bertambah di udara, sehingga asupan oksigen bagi makhluk hidup di dalam, permukaan, dasar air, maupun makhluk hidup di darat sekitar perairan dapat terpenuhi.
DAFTAR PUSTAKA
Hutabarat, S dan S.M. Evans. 1985. Pengantar Oceanografi. UI Press. Jakarta
Kasry, Adnan dkk., 2010. Penuntun Pratikum Ekologi Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru. 53 hal.
2010. Diktat Perkuliahan Ekologi Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru. 100 hal.
Odum, E.P.,1971. Fundamental of Ecology. Third Ed.,W.B. Saunders&Co.,Philadelphia
Siagian, M. 2004. Diktat Kuliah dan Penuntun Ekologi Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru. 94 hal
Lamberti, G.A. 1996. The role of periphyton in benthic food webs. In: Stevenson, R.J., Bothwell, M., Lowe, R.L. (Eds.), Algal Ecology: Freshwater Benthic Ecosystem. Academic Prees, San Diego, CA, pp. 533-572
Sachlan. 1980. Fitoplankton di perairan Selat Sele, Irian Jaya. Makalah dalam Seminar Nasional Kelautan KTI, Unjung Pandang 24-27 Juni 1998.




01.17
Unknown