Blogger news

MSP

Manajemen Sumberdaya Perairan

Sabtu, 05 Oktober 2013

kelimpahan plankton

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.
Plankton bisa menghasilkan oksigen di perairan dan merupakan makanan bagi organisme – organisme lainnya seperti ikan dan udang. Itu sebabnya plankton sangat berperan bagi kelangsungan hidup organisme di perairan. Melimpahnya plankton di suatu perairan bisa kita jadikan sebagai penentu tercemar tidaknya suatu perairan, sebab salah satu organisme yang sensitive terhadap bahan kimia adalah plankton.
Air adalah suatu zat pelarut yang bersifat yang sangat berdaya guna,yang mampu melarutkan zat-zat lain dalam jumlah besar dari pada zat cair lainnya.Sifat-sifat ini dapat dilihat dari banyak unsur-unsur pokok yang terdapat dalam air laut (Hutabarat, S dan S.M. Evans. 1985. Pengantar Oceanografi. UI Press. Jakarta).
Masing-masing habitat mempunyai ciri-ciri tersendiri dan adanya perubahan lingkungan dimana habitat itu tinggal, maka akan menyebabkan jumlah jenis dari kelimpahan organisme yang hidup di dalamnya berbeda-beda. Walaupun mempunyai lingkungan hidup yang berbeda-beda, tetapi pada masing-masing habitat tersebut terdapat interaksi antara factor biotik dan abiotik.
Perairan umum adalah bagian permukaan bumi yang secara permanen atau berkala digenangi oleh air, baik air tawar, air payau, maupun air laut, mulai dari garis pasang surut terendah ke arah daratan dan badan air tersebut terbentuk secara alami ataupun buatan (UU No. 7, 2004).
Perairan umum meliputi sungai, sungai mati (oxbow lake), lebak-lebung (floodplain), saluran irigasi, kanal, estuaria, danau, situ, waduk, rawa, goba (lagoon), genangan air (telaga, embnung, kolong-kolong, dan legokan-legokan) (Penuntun Pratikum Ekologi Perairan, 2010).
Kualitas suatu perairan sangat berpengaruh terhadap kemampuan produktifitas fitoplankton, penurunan kualitas perairan akan menyebabkan penurunan kelimpahan fitoplankton yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kelayakan suatu perairan untuk kegiatan perikanan.
Rendahnya tingkat produktivitas di perairan pada umumnya berhubungan dengan tingkat atau cara pengeloaan yang baik.Cara ini membahayakan kelestarian populasi ikan di perairan tersebut.Akibat tidak adanya perhitungan sama sekali mengenai populasi ikan pada tahun-tahun berikut (Odum, E.P.,1971. Fundamental of Ecology. Third Ed.,W.B. Saunders&Co.,Philadelphia)
1.2. Tujuan Pratikum
Tujuan diadakan praktikum ini adalah mahasiswa dapat melihat dan mengamati serta mengetahui bagaimana keadaan perairan yang terdapat di waduk Fakultas Perikanan Universitas Riau dengan melakukan berbagai penelitian. Sehingga mahasiswa dapat mengetahui kategori-kategori perairan yang masih baik atau yang sudah tercemar.
Manfaat diadakannya praktikum ini yaitu setiap mahasiswa dapat langsung terjun kelapangan serta dapat langsung melihat atau mempraktekan bagaimana cara meneliti perairan sehingga dapat diketahui apakah perairan tersebut masih baik atau sudah tercemar.

















II. TINJAUAN PUSTAKA

Istilah plankton pertama kali digunakan oleh Hensen dalam Odum (1971), berasal dari bahasa Yunani yaitu Planktos yang artinya mengembara atau berkeliaran. Menurut Boney dalam Krebs (1985), plankton tersusun atas jasad-jasad hewani mikroskopis (phytoplankton) dan jasad-jasad hewani (zooplankton) yang terdapat di laut maupun air tawar, hidup bebas terapung, dan pergerakannya bersifat pasif tergantung adanya arus dan angin (Kasry, Adnan.dkk. 2010. Penuntun Pratikum Ekologi Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Pekanbaru).
Sebagai produsen utama, plankton memegang peranan penting dalam jaringan makanan di semua perairan baik perairan pantai maupun lepas pantai. Plankton yang umumnya dikenal umumnya terbagi atas fitoplankton dan zooplankton yang merupakan dasar awal dari semua jaringan makanan, dapat langsung dimanfaatkan oleh biota-biota yang hidup di perairan. Fitoplankton berperan sebagai pembuat makanan, dimanfaatkan oleh zooplankton dan selanjutnya zooplankton dimakan oleh ikan-ikan kecil sebagai konsumen berikutnya. Fitoplankton diatom adalah komponen kunci dari ekosistem akuatik yang sangat berperan dalam jarring makanan (Lamberti,1996).
Phytoplankton merupakan tumbuhan air yang sangat kecil yang terdiri dari beberapa kelas ,yag sangat tergantung pada cahaya matahari terdapat pada permukaan air sampai kedalaman penetrasi cahaya matahari.Dan phytoplankton ini merupakan produsen utama(Primery producer) zat-zat organik yang komplek dari bahan-bahan organik dan dari bahan anorganik yang sederhana melalui proses fotosintesis (Siagian, M. 2004. Diktat Kuliah dan Penuntun Ekologi Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru. 94 hal).
Plankton mempunyai masa aktif yang mirip dengan organisme tingkat tinggi, dimana untuk phytoplankton akan terdapat dalam jumlah yang besar pada siang hari dan zooplankton pada malam hari. Untuk itu sampling phytoplankton terbaik pada sore hari antara pukul 13.00 WIB sampai 15.00 WIB. Sampling zooplankton dapat dilakukan pada senja hingga malam hari, beberapa jam setelah peledakan populasi phytoplankton. Beberapa contoh phytoplankton antara lain Spirulina sp, Nitzchia sp, dan Coelastrum sp (Kasry, Adnan.dkk. 2010. Penuntun Pratikum Ekologi Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Pekanbaru).
Berdasarkan hasil identifikasi zooplankton, berhasil diidentifikasi 53 taksa (hampir semuanya genus) beberapa diantaranya merupakan kelompok zooplankton yang predominan. Kelompok zooplankton yang predominan yaitu Copepoda, Urochordata, dan meroplankton.
Copepoda merupakan kelompok zooplankton yang predominan dengan prosentase paling tinggi mencapai 78.28%, rata-rata 67.44%; diikuti urochordata 24.77%, rata-rata 13.42%, dan meroplankton dengan prosentase mencapai 24.69%, dengan rata-rata 11.65%. Acartia, Paracalanus, Corycaeus, Onchaea, larva Copepoda, larva Decapoda, larva Echinodermata dan telur ikan banyak terdapat disemua stasiun pengambilan contoh. Beberapa taksa keberadaannya teridentifikasi hanya pada stasiun tertentu saja, misalnya Macrosetella, Oikopleura, Tortunus, dan Thalia hanya terdapat di stasiun 10.
Menurut Sachlan (1980) plankron adalah jasad – jasad renik yang melayang – laying di air, yang pergerakannya selalu mengikuti arus. Plankton ini dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu fitoplankton dan zooplankton.














III. METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat.
Praktikum ini dilakasanakan pada hari sabtu tanggal 3 Desember 2011, Pukul 11.00 WIB – selesai di Laboratorium Limnologi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Riau. Pekanbaru.
3.2 Bahan dan Alat
Pada praktikum “kelimpahan Plankton di perairan ” menggunakan beberapa peralatan antara lain: plankton net, mikroskop, gelas objek. cover glass, pipet tetes, pena, dan pensil.
Sedangkan bahan yang digunakan adalah air contoh yang di dalamnya mengandung plankton.
3.3 Metode Pratikum
Metode yang digunakan pada praktikum kali ini adalah metode pencacahan secara acak dan metode Lackey drop microtransect counting.
3.4. Prosedur Praktikum
Mengambil air sample yang sudah di awetkan, air sample di ambil dari perairan waduk FAPERIKA. Kemudian meletakkan beberapa tetes air ke atas objekglass dan di tutup dengan coverglass dan mengamatinya di bawah mikroskopis.
Menggambarkan plankton yang di lihat ke dalam lembaran kerja praktikum dan menghitung berapa banyak plankton dari satu spesies dengan menggunakan cara sapuan. Kemudian mengindentifikasi plankton tersebut, termasuk kedalam spesies apa.







IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Hasil
Dari hasil praktikum minggu lalu kami memperoleh hasil jenis plankton yang kami dapat adalah Eremosphaera, Sphaerachystys, Lyngbia sp, Botryococcus, Trebancia, Ceratium strittum, Scenedesmus, Gleocapsa, Ankistrodesmus, Maugeotia.

jenis plankton Lapangan pandang ke.. Jlh total sel. Jlh rata-rata
1 2 3 4 5 6 7 8 9 seluruh lapang pandang sel/lap. Pandang (n)
Eremosphaera 1 1 0,1
Sphaerachystys 4 1 3 2 1 1 12 1,3
Lyngbia sp 2 2 0,2
Botryococcus 1 1 1 3 0,3
Trebancia 1 1 1 3 0,3
Ceratium strittum 1 1 0,1
Scenedesmus 1 1 2 0,2
Gleocapsa 1 1 1 3 0,3
Ankistrodesmus 1 1 0,1
Maugeotia 1 1 2 0,2

Tabel 1. Kelimpahan plankton di bawah masing-masing Lapangan Pandang.

4.2 Pembahasan
Dari nilai-nilai indeks keragaman jenis yang kita peroleh dapat menjadi penentu kualitas lingkungan perairan tempat diambilnya air sampel dan sebaran individu organisme yang ada pada suatu ekosistem yaitu sebagai berikut.
Menurut Wilhm dan Dorris (dalam Odum, 1971), perairan mengalami pencemaran ringan karena nilai H’ antara 1 s/d 3 (Kasry, Adnan.dkk. 2010. Penuntun Pratikum Ekologi Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Pekanbaru).
Menurut Staub et al dalam Wilhm (dalam Odum, 1971), tingkat pencemaran perairan sedang karena nilai H’ antara 1 s/d 2,0 (Kasry, Adnan.dkk. 2010. Penuntun Pratikum Ekologi Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Pekanbaru).
Menurut Shannon Weiner (dalam Odum, 1971), perairan memiliki keragaman sedang dengan sebaran individu sedang karena nilai H’ antara 1,0 s/d 3,0 (Kasry, Adnan.dkk. 2010. Penuntun Pratikum Ekologi Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Pekanbaru).



















V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Dari hasil pratikum ini didapatkan bahwa waduk Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau memiliki sebaran individu sedang (keragamannya sedang) berarti perairan tersebut mengalami tekanan (gangguan) yang sedang atau struktur komunitas organisme yang sedang. Selain itu, tidak ada jenis organisme yang mendominasi di waduk serta keseragaman organisme dalam waduk berada dalam keadaan seimbang berarti tidak terjadi persaingan baik terhadap tempat maupun terhadap makanan.

5.2. Saran
Adapun saran-saran yang diberikan antara lain adalah diadakannya pembersihan di sekeliling maupun di dalam waduk. Mengingat banyak dari sampah-sampah yang terdapat di luar dapat masuk ke dalam perairan dan berakibat bertambahnya kadar kekeruhan (turbidity) perairan dan padatan tersuspensi (TSS) perairan tersebut. selain itu diperlukannya tumbuhan yang lebih banyak di sekitar perairan agar kadar oksigen dapat bertambah di udara, sehingga asupan oksigen bagi makhluk hidup di dalam, permukaan, dasar air, maupun makhluk hidup di darat sekitar perairan dapat terpenuhi.











DAFTAR PUSTAKA
Hutabarat, S dan S.M. Evans. 1985. Pengantar Oceanografi. UI Press. Jakarta

Kasry, Adnan dkk., 2010. Penuntun Pratikum Ekologi Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru. 53 hal.

2010. Diktat Perkuliahan Ekologi Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru. 100 hal.

Odum, E.P.,1971. Fundamental of Ecology. Third Ed.,W.B. Saunders&Co.,Philadelphia

Siagian, M. 2004. Diktat Kuliah dan Penuntun Ekologi Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru. 94 hal

Lamberti, G.A. 1996. The role of periphyton in benthic food webs. In: Stevenson, R.J., Bothwell, M., Lowe, R.L. (Eds.), Algal Ecology: Freshwater Benthic Ecosystem. Academic Prees, San Diego, CA, pp. 533-572

Sachlan. 1980. Fitoplankton di perairan Selat Sele, Irian Jaya. Makalah dalam Seminar Nasional Kelautan KTI, Unjung Pandang 24-27 Juni 1998.





























Kamis, 06 Juni 2013

Ikan Betutu

Ikan Betutu (Oxyeleotris marmorata)

Klasifikasi:
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Perciformes
Famili : Eleotridae
Genus : Oxyeleotris
Spesies : Oxyeleotris marmorata

Deskripsi ikan Betutu (Oxyeleotris marmorata).
Ikan Betutu (Oxyeleotris marmorata) adalah nama ikan air tawar. Dalam bahasa Inggris disebut marble goby atau marble sleeper, merujuk pada pola-pola warna di tubuhnya yang serupa batu pualam kemerahan. Di berbagai daerah di Indonesia ikan ini memiliki nama bakut, bakutut, belosoh, beloso, boso, boboso, bodobodo, ikan bodoh, gabus bodoh, ketutuk, ikan malas, ikan hantu dan lain-lain. Meskipun jarang yang berukuran besar, ikan yang banyak terdapat di negara-negara Asia Tenggara ini (termasuk Indonesia) diburu oleh banyak pemancing karena tarikannya yang kuat dan tiba-tiba dan karena khasiat yang ditawarkan oleh ikan ini.
Ikan betutu memang mendapatkan julukan gabus malas atau ikan malas karena ikan ini memang malas berpindah tempat. Sekalipun diusik, dia cenderung diam saja di dasar air. Hanya di malam hari ikan betutu aktif mencari makan (nocturnal) berupa udang-udang kecil, kepiting, dan siput air. Ikan ini banyak kita jumpai di sungai-sungai, rawa, waduk, ataupun saluran-saluran air.
Ikan dengan ciri berkepala besar ini memiliki panjang tubuh maksimum sekitar 65 cm, namun kebanyakan antara 20–40 cm atau kurang. Berwarna merah bata pudar, kecoklatan atau kehitaman, dengan pola-pola gelap simetris di tubuhnya. Tanpa bercak bulat (ocellus) di pangkal ekornya. Ciri-ciri lainnya adalah sirip dorsal (punggung) yang sebelah muka dengan enam jari-jari yang keras (duri); dan yang sebelah belakang dengan satu duri dan sembilan jari-jari yang lunak. Sirip anal dengan satu duri dan 7–8 jari-jari lunak. Sisik-sisik di tengah punggung, dari belakang kepala hingga pangkal sirip dorsal (predorsal scales) 60–65 buah. Sisik-sisik di sisi tubuh, di sepanjang gurat sisi (lateral row scales) 80–90 buah.
Ikan betutu cenderung pendiam sehingga tidak membutuhkan kolam yg besar, karena justru menghambat pertumbuhan lantaran kesulitan menangkap mangsa. Proporsi jumlah ikan dalam tiap meter kolam adalah 10 – 15 ekor dewasa. Sedangkan kolam berukuran 1 m2 cukup untuk menampung bibit ukuran ( 1 -3 cm ) sebanyak 1000 – 2000 ekor . Kedalaman air yang ideal 25 – 30 cm .
Penyakit dan Obatnya
Penyakit yang sering menyerang ikan betutu adalah penyakit kulit berlendir dan luka . Cara pengobatannya dengan merendam ikan ke dalam larutan air garam selama 1 – 2 menit . Atau kalium permanganat PK dengan konsentrasi 3 -4 tetes setiap 5 liter air . Perendaman PK dilakukan selama 30 detik . Penyakit ini timbul karena kualitas air dan kelebihan pakan yang membusuk .
Mempercepat Perkembangan Betutu
Marble goby atau lebih dikenali ikan betutu, haruan merupakan spesies ikan air tawar namun dapat juga hidup di kawasan air payau. Kebiasaan gemar tinggal di kawasan air berarus tenang dan banyak tempat untuk bersembunyi, seperti batu-batuan dan tumbuhan air. Bersifat omnivora, memakan daging dengan memakan anak² ikan kecil, udang, siput dan ketam kecil bahkan buah-buah tertentu seperti buah sawit.
Bersifat pendiam dengan aktif pada waktu malam hari (nocturnal). Betutu dapat mencapai pembesaran sehingga 50 cm atau 2kg dalam masa 2 tahun.
Betutu dapat dibiakkan dengan bermacam-macam tipe kolam,
• Kolam tanah
• Aquarium fiber glass
• Aquarium kaca
• Kolam semen
Kolam tanah lebih dianjurkan karena menyerupai habitat aslinya. Sedangkan aquarium walaupun cocok untuk yang tidak memiliki lahan luas, namun kurang disarankan. Karena sifat agresif betutu saat menyergap mangsanya, dapat menyebabkan cedera pada mulutnya akibat dari bentuk aquarium yang persegi dan mempunyai sudut. Jika sampai mulutnya cedera, maka bisa menghambat pertumbuhan akibat susah untuk makan.

Harga Selangit
Ikan betutu tiba-tiba saja menjadi ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi karena dipercaya mampu meningkatkan vitalitas pria. Bayangkan saja, ikan dengan rasa daging yang biasa-biasa saja ini harganya bisa mencapai Rp.120.000 hingga Rp.190.000 perkilogramnya, untuk ukuran 300 – 400 g/ekor. Tak heran, saat ini banyak sekali orang yang berusaha membudidayakannya. Namun penyumbang utama ketersediaan ikan betutu di pasaran adalah dari hasil penangkapan di alam. Selain dipercaya manjur untuk meningkatkan kejantanan laki-laki, ikan betutu juga bisa diolah sebagai obat untuk para pasien selepas operasi. Negara-negara seperti Singapura dan Jepang termasuk yang getol mengimpor ikan ini dari Indonesia.
Mahalnya harga ikan betutu diduga ada beberapa versi, mungkin karena cita rasanya lezat, dagingnya putih, empuk, dan nyaris tidak bertulang. Ikan betutu juga dipercaya mengandung khasiat tertentu bagi kaum wanita dan bagi kaum pria. Bagi kaum’wanita, ikan betutu dipercaya dapat membuat awet muda dan dapat menambah kehalusan kulit karena banyak mengandung vitamin B1, B2, B6 vitamin F, dan vitamin E sehingga dapat menghambat proses penuaan. Bagi kaum pria, ikan betutu dipercaya banyak mengandung enzim dan hormon tertentu sehingga dapat menambah keperkasaan sebagai laki-laki. Namun, ada pula yang mengatakan bahwa ikan betutu hanya sebagai arena adu gengsi untuk meloby relasi.

Teknologi Pembenihan
Induk ikan Betutu yang akan dipijah berukuran 800 – 1.500 gram per ekor.
Pasalnya ada korelasi positif antara bobot induk dengan jumlah telur yang dihasilkan induk dengan kisaran bobot tersebut diatas dapat menghasilkan telur sebanyak 5.000–30.000 butir. Jumlah telur sangat bervariasi tergantung kondisi induk dan tingkat kematangan gonad. Induk-induk ikan betutu yang akan dipijah harus diperhatikan secara praktis tingkat kematangan gonad induk ikan betina dapat diketahui dari ukuran celah genitalnya. Induk ikan jantan juga kelihatan warna merah disekitar lubang pelepas. Ada kalanya jika bagian bawah perut diurut akan keluar cairan berwarna putih.
Salah satu pakan alami yang disenangi benih betutu adalah cacing tubifex. Cacing tubifex merupakan jenis pakan alami yang baik bagi pertumbuhan benih ikan. Cacing ini mempunyai kandungan protein yang tinggi yaitu, sekitar 58,20%. Cacing tubifex berukuran panjang 1–2 cm, sehingga dapat diberikan kepada benih betutu yang berukuran 3–5 cm, karena sesuai dengan bukaan mulut benih betutu yang berukuran 2 mm.
Secara teknis ikan betutu memang masih sulit untuk dibudidayakan. Namun melalui serangkaian uji coba yang dilakukan oleh para ahli, ikan betutu sudah dapat dipijahkan baik secara alami maupun dengan menggunakan rangsangan hormone. Kendala utama dalam budidaya ikan betutu ialah lamanya pertumbuhan ikan tersebut. Untuk mencapai ukuran siap dibesarkan ( 50 – 100 g per ekor) membutuhkan waktu sekitar 8 – 13 bulan, sedangkan untuk mencapai ukuran konsumsi (1 – 2 ekor per kg ) membutuhkan waktu sekitar 2,5 tahun. Salah satu faktor yang menentukan dalam keberhasilan budidaya perikanan adalah kualitas benih dan pakan yang baik. Pakan tersebut harus memenuhi syarat kualitas dan kuantitas yang baik. Karena dengan pemberian pakan yang berkualitas baik maka akan didapatkan pertumbuhan yang baik pula. Kualitas dari pakan yang baik adalah kandungan gizi yang tinggi, seperti protein yang dibutuhkan oleh benih ikan.
Pemijahan induk ikan Betutu dapat dilakukan secara alami atau dengan
stimulasi hormon. Pemijahan betutu tidak mengenal musim dan dapat berlangsung sepanjang tahun tiga sampai empat kali setahun. Kemauan memijah biasanya akan meningkat pada musim hujan, sebaliknya kurang pada musim kemarau.

a. Pemijahan alami

Tempat pemijahan betutu dilakukan di kolam tanah dan bak fiber glass. Penebaran induk antara jantan dan betina 1 : 1. Padat penebarannya dilakukan untuk 100 ekor induk pada luasan kolam 20 x 30 m, kedalaman 1 – 2 m, dasar dan pinggir kolam bersiring tembok, memiliki pergantian air secara terus menerus, tempat pemijahan harus dilengkapi saluran pemasukan air (inlet) dan saluran pembuangan (outlet). Telur dikeluarkan dari tubuh betina yang sudah matang gonad dengan menyemprotkannya ke substrat. Substrat untuk penempelan telur tersebut terbuat dari potongan pipa paralon berukuran 4 – 6 inchi yang dibelah dan kemudian diikat kembali guna memudahkan pada saat mengecek keberadaan telur. Jumlah sarang yang ditempatkan dalam kolam bekisar 20 – 30 buah untuk sejumlah pasang induk tersebut. setiap induk bertelur pada substrat membentuk lingkaran yang diselimuti lendir. Telur tersebut dipindahkan ke aquarium bervolume 40 – 60 liter. Kedalam aquarium dapat diisi 2 – 3 sarang dan diberi aerasi untuk suplay udara sampai telur menetas.


b. Kawin suntik

Tujuan kawin suntik yaitu untuk mendapatkan produksi telur dalam julah lebih banyak, yang memungkinkan benih ikan diproduksikan secara masal dan terjadwal. Hal ini dilakukan jika fasilitas hatchery untuk pemeliharaan larva cukup memadai, sehingga pengaruh kegagalan bisa dikurangi. Hormon yang digunakan untuk menstimulasi pemijahan Betutu adalah ovaprim. Hormon disuntikan ketubuh ikan secara intra muscular pada bagian dorsal dekat sirip punggung. Penyuntikan dilakukan 2 kali dosis yang dianjurkan 0,5 ml/ kg bobot badan. Selang waktu penyuntikan pertama dan kedua berkisar 10 – 12 jam. Waktu ovulasi induk-induk antara 36 – 60 jam.














DAFTAR PUSTAKA

Suryani, S.A.M.P., Sukoso, dan K. Sugama. Oxyeleotris marmorata, Marble goby pada laman FishBase.org, diakses 25/04/2008
Kottelat, M., A.J. Whitten, S.N. Kartikasari, dan S. Wirjoatmodjo. 1993. Ikan Air Tawar Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi. Periplus dan Proyek EMDI KMNKLH. Jakarta. p.186
Soewardi, K. 2006. Studi Beberapa Aspek Biologi Reproduksi Ikan Betutu (Oxyeleotris marmorata Bleeker) di Sungai Cisadane dan Waduk Saguling, Jawa Barat. Jurnal Natur Indonesia 8 (2): 105 – 113.


Artemia sp.

I.PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Artemia atau “brine shrimp” merupakan salah satu jenis pakan alami yang sangatdiperlukan dalam kegiatan pembenihan udang dan ikan. Beberapa sifat artemia yangmenunjang antara lain Mudah dalam penanganan, karena tahan dalambentuk kista untuk waktu yang lama. Mudah beradaptasi dalam kisaran salinitas lingkungan yang lebar. Makan dengan cara menyaring, sehingga mempermudah dalam penyedian pakannya. Dapat tumbuh dengan baik pada tingkat padatpenebaran tinggi . Mempunyai nilai nutrisi tinggi, yaitu kandungan protein 40 – 60% Klasifikasi dari Artemia: Kingdom: Animalia. Phylum: Arthropoda Subphylum: Crustacea Class: Branchiopoda Family: Artemiidae Grochowski, 1895 Genus: Artemia Leach, 1819 ( Anonymous, 2008 )
Zooplankton seperti halnya organisme lain hanya dapat hidup dan berkembang dengan baik pada kondisi perairan yang sesuai seperti perairan laut, sungai dan waduk. Zooplankton merupakan plankton berupa hewan, pada mulanya organism tersebut diklasifikasikan kedalam kelompok zooplankton tetapi dengan seiring perkembagan penelitian maka terungkap sifat mikrotrofi maka ada tigkatan yang mampu memproduksi makanan sendiri (fotosintesis). Peranan zooplankton menempati posisi penting dalam mantai makanan dan jaring – jaring kehidupan di perairan (Fachrul, 2007).
Fitoplankton memegang peranan yang sangat penting dalam suatu perairan, fungsi ekologinya sebagai produsen primer dan awal mata rantai dalam jaringmakanan menyebabkan fitoplankton sering dijadikanskala ukuran kesuburan suatu perairan. Tingkat berikutnya adalah pemindahan energi dari produsen ketingkat tropik yang lebih tinggi melalui rantai makanan. Zooplankton merupakan konsumen pertama yangmemanfaatkan produksi primer yang dihasilkanfitoplankton. Peranan zooplankton sebagai mata rantaiantara produsen primer dengan karnivora besar dankecil dapat mempengaruhi kompleksitas rantai makanan dalam ekosistem perairan. Zooplankton merupakan plankton hewani yang terhanyut secara pasifkarena terbatasnya kempuan bergerak. SebutsajaArtemiasalina. Udang air garam (Artemia) adalah filum Arthropoda, kelas Crustacea. Artemia adalah zooplankton, seperti copepoda dan Daphnia yang digunakan sebagai makanan hidup untuk ikan tawar dan laut. Ada lebihdari 50 strain geografis Artemia.
1.2.Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari penulisan makalah ini agar pembaca dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan plankton khususnya zooplankton serta peranannya dalam kegiatan budidaya dan mampu menerapkannya. Sedangkan manfaat dari penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa dapat mengetahui dampak apa saja yang ditimbulkan khususnya zooplankton di suatu perairan.


II. PEMBAHASAN
Nama Artemia sp. diberikan untuk pertama kali oleh Schlosser yang menemukannya di suatu danau asin pada tahun 1755. Kemudian oleh Linnaeus (1758) melengkapkan nama remik ini menjadi Artemia salirw. karena daya toleransinya terhadap salinitas yang amat tinggi. Selain spesies Artemia, salimi, ada beberapa spesies yang diberikan nama bagi strain zigogenerik, yaitu bila di dalam populasi bercampur antara spesies berina dan jantan. Nama-nama tersebut di antaranya Artemia tunisiana. Anemia franciscana, Anemia fersimilis, Artemia urmiana, dan Anemia monica. Namun demikian, nama Anemia salina atau disingkat artemia saja tetap umum digunakan.
Siklus hidup Artemia bisa dimulai dari saat menetasnya kista atau telur. Setelah 15-20 jam pada suhu 25 derajat celcius kista akan menetas menjadi embrio. Dalam waktu beberapa jam embrio ini masih akan tetap menempel pada kulit kista. Pada fase ini embrio akan tetapmenyelesaikan perkembanganya kemudian berubah menjadi naupli yang akan bisa berenangbebas. Pada awalnya naupli aka berwarna orange kecoklatan akibat masih mengandungkuning telur. Artemia yang baru menetas tidak akan makan, karena mulut dan anusnyabelum terbentuk dengan sempurna. Setelah 12 jam mereka akan ganti kulit dan memasukitahap larva kedua. Dalam fase ini mereka akan mulai makan, dengan pakan berupa mikroalga, bakteri, dan detritus organic lainya.
Pada dasarnya mereka tidak akan peduli (tidakmemilih) jenis pakan yang dikonsumsinya selama bahan tersebut tersedia dalam air denganukuran yang sesuai. Naupli akan berganti kulit sebanyak 15 kali sebelum menjadi dewasadalam kurun waktu. 8 hari. Artemia dewasa rata-rata berukuran sekitar 8 cm, meskipun demikian pada kondisi yang tepat mereka dapat mencapai ukuran sampai dengan 20 mm.pada kondisi demikian biomasnya akan mencapai 500 kali dibandingkan biomas pada fasenaupli.. sedangkan temperature optimal untuk penetasan kista dan pertumbuhan adalah 25-30 0C. Meskipun demikian hal ini akan ditentukan oleh strain masing-masing. Artemia menghendaki kadarsalinitas antara 30-35 ppt, dan mereka dapat hidup dalam air tawar selama 5 jam sebelumakhirnya mati. Variable lain yang penting adalah pH, cahaya, dan oksigen. pH dengan selang 8-9 merupakan selang yang paling baik, sedangkan pH di bawah 5 atau lebih tinggi dari 10 dapat membunuh Artemia. Cahaya minimal diperlukan dalam proses penetasan dan akansangat menguntungkan bagi perumbuhan mereka. Lampu standar grow-lite sudah cukup untuk keperluan hidup Artemia. Kadar oksigen harus dijaga dengan baik untuk pertumbuhan artemia. Artemia dengan supply oksigen yang baik, Artemia akan berwarna kuning ataumerah jambu. Warna ini bisa berubah menjadi kehijauan apabila mereka banyakmengkonsumsi mikro algae.pada kondisi yang ideal seperti ini, Artemia akan tumbuh dahberanak-pinak dengan cepat. Sehingga supply Artemia untuk ikan yang kita pelihara bisaterus berlanjut secara kontinyu. Apabila kadar oksigen dalam air rendah dan air banyakmengandung bahan organic, atau apabila salinitas meningkat, artemia akan memakanbacteria, detritus, dan sel-sel kamir (yeast). Pada kondisi demikian mereka akan berwarnamerah atau orange. Apabila keadaan ini terus berlanjut mereka akan mulai memproduksikista. ( Anonymous, 2008).
2.1 Pakan Alami : Artemia
Artemia merupakan pakan alami yang sangat penting dalampembenihan ikan laut, krustacea, ikan konsumsi air tawar dan ikan hiasair tawar karena ukurannya yang sangat kecil. Disamping ukurannya yang kecil, nilai gizi Artemia juga sangat tinggi dan sesuai dengan kebutuhan gizi untuk larva ikan dan krustacea yang tumbuh dengan sangat cepat. Sampai saat ini Artemia sebagai pakan alami belum dapat digantikanoleh pakan lainnya. Artemia biasanya diperjual belikan dalam bentukkista/cyste, sehingga sebagai pakan alami Artemia merupakan pakanyang paling mudah dan praktis, karena hanya tinggal menetaskan kistasaja. Akan tetapi, menetaskan kista Artemia bukan suatu hal yangdengan begitu saja dapat dilakukan oleh setiap orang. Sebabmembutuhkan suatu keterampilan dan pengetahuan tentang penetasanitu sendiri. Kegagalan dalam menetaskan kista Artemia barakibat fatalterhadap larva ikan yang sedang dipelihara.
2.2 Klasifikasi
Menurut Bougis (1979) dalam Kurniastuty dan Isnansetyo (1995) adalah sebagai berikut:
Phylum:Anthropoda
Kelas:Crustacea
Subkelas:Branchiopoda
Ordo:Anostraca
Familia:Artemidae
Genus:Artemia
Spesies : Artemia salina
2.3 Morfologi
Pada tiap tahapan perubahan instar nauplius mengalami moulting. Artemia dewasamemiliki panjang 8-10 mm ditandai dengan terlihat jelas tangkai mata pada kedua sisibagian kepala, antena berfungsi untuk sensori. Pada jenis jantan antena berubah menjadialat penjepit (muscular grasper), sepasang penis terdapat pada bagian belakang tubuh.Pada jenis betina antena mengalami penyusutan.
Kista Artemia sp. yang ditetaskan pada salinitas 15-35 ppt akan menetas dalam waktu 24-36 jam. Larva artemia yang baru menetas dikenal dengan nauplius. Nauplius dalampertumbuhannya mengalami 15 kali perubahan bentuk, masing-masing perubahanmerupakan satu tingkatan yang disebut instar (Pitoyo, 2004).
Artemia salina dewasa (San Francisco ras) tumbuh selama 5-6 minggu pada 80-literakuarium digunakanuntukmengisolasi hemoglobin ekstraseluler.
2.4 Ekologi
Artemia sp. secara umum tumbuh dengan baik pada kisaran suhu 25-30 derajat celcius.Kista artemia kering tahan terhadap suhu -273 hingga 100 derajat celcius. Artemia dapatditemui di danau dengan kadar garam tinggi, disebut dengan brain shrimp. Kulturbiomasa artemia yang baik pada kadar garam 30-50 ppt. Untuk artemia yang mampumenghasilkan kista membutuhkan kadar garam diatas 100 ppt (Kurniastuty danIsnansetyo, 1995).
2.5 Reproduksi
Chumaidi et al., (1990) menyatakan bahwa perkembangbiakan artemia ada dua cara,yakni partenhogenesis dan biseksual. Pada artemia yang termasuk jenis parthenogenesispopulasinya terdiri dari betina semua yang dapat membentuk telur dan embrioberkembang dari telur yang tidak dibuahi. Sedangkan pada artemia jenis biseksual,populasinya terdiri dari jantan dan betina yang berkembang melalui perkawinan danembrio berkembang dari telur yang dibuahi.
2.6 Penetasan cystae Artemia
Sutaman (1993) mengatakan bahwa penetasan cystae artemia dapat dilakukan dengan 2cara, yaitu penetasan langsung dan penetasan dengan cara dekapsulasi. Cara dekapsulasidilakukan dengan mengupas bagian luar kista menggunakan larutan hipoklorit tanpamempengaruhi kelangsungan hidup embrio.Cara dekapsulasi merupakan cara yang tidak umum digunakan pada panti-panti benih,namun untuk meningkatkan daya tetas dan meneghilangkan penyakit yang dibawa olehcytae artemia cara dekapsulasi lebih baik digunakan (Pramudjo dan Sofiati, 2004).
Subaidah dan Mulyadi (2004) memberikan penjelasan langkah-langkah penetasan dengancara dekapsulasi, sebagai berikut: 1. Cystae artemia dihidrasi dengan menggunakan airtawar selama 1-2 jam; 2. Cystae disaring menggunakan plankton net 120 mikronm dandicuci bersih; 3. Cystae dicampur dengan larutan kaporit/klorin dengan dosis 1,5 ml per 1gram cystae, kemudian diaduk hingga warna menjadi merah bata; 4. Cystae segeradisaring menggunakan plankton net 120 mikronm dan dibilas menggunakan air tawarsampai bau klorin hilang, barulah siap untuk ditetaskan; 5. Cystae akan menetas setelah18-24 jam. Pemanenan dilakukan dengan cara mematikan aerasi untuk memisahkan cytaeyang tidah menetas dengan naupli artemia.
Pramudjo dan Sofiati (2004) cystae hasil dekapsulasi dapat segera digunakan (ditetaskan)atau disimpan dalam suhu 0 derajat celcius – (- 4 derajat celcius) dan digunakan sesuaikebutuhan.Dalam kaitannya dengan proses penetasan Chumaidi et al (1990) mengatakan kistasetelah dimasukan ke dalam air laut (5-70 ppt) akan mengalami hidrasi berbentuk bulatdan di dalamnya terjadi metabolisme embrio yang aktif, sekitar 24 jam kemudiancangkang kista pecah dan muncul embrio yang masih dibungkus dengan selaput. Padasaat ini panen segera akan dilakukan.
2.7 Pengayaan Artemia
Pengayaan (enrichment) artemia dengan menggunakan beberapa jenis pengkaya misalnyascout emultion, selco atau vitamin C dan B kompleks powder dilakukan selama 2 jam(Suriawan,2004).Selanjutnya diperjelas oleh Subyakto dan Cahyaningsih (2003) bahwa pengayaan pakanalami menggunakan minyak ikan, minyak cumi-cumi, vitamin ataupun produk komersiallainnya membutuhkan waktu 2-4 jam untuk mendapatkan hasil yang baik. Artemia yangakan dilakukan pengayaan adalah yang baru menetas (nauplius) (Mukti, 2004). BBAP Situbondo (2004) mencatat bahwa pemberian tambahan vitamin C dengan carapengayaan dengan dosis 0,1 – 0,5 ppm pada media pengayaan artemia dapatmeningkatkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva kerapu. Syaprizal (2006) jugamemperoleh hasil dengan pengayaan vitamin C sebanyak 2 mg/l ke artemia dapatmeningkatkan kelulusan hidup benur udang windu dan diperoleh kemungkinan adanyakelulusan hidup lebih tinggi dengan penambahan dosis vitamin C.
2.8 Artemia Salina (BRINE SHRIMP)
Artemia merupakan kelompok udang-udangan dari phylum Arthopoda. Merekaberkerabat dekat dengan zooplankton lain seperti copepode dan daphnia (kutu air).Artemia hidup di danau-danau garam (berair asin) yang ada di seluruh dunia. Udang initoleran terhadap selang salinitas yang sangat luas, mulai dari nyaris tawar hingga jenuhgaram. Secara alamiah salinitas danau dimana mereka hidup sangat bervariasi, tergantungpada jumlah hujan dan penguapan yang terjadi. Apabila kadar garam kurang dari 6 %telur artemia akan tenggelam sehingga telur tidak bisa menetas, hal ini biasanya terjadiapabila air tawar banyak masuk kedalam danau dimusim penghujan. Sedangkan apabilakadar garam lebih dari 25% telur akan tetap berada dalam kondisi tersuspensi, sehinggadapat menetas dengan normal.
Gambar 1. Artemia salina
Kista tertua artemia pernah ditemukan oleh suatu perusahan pemboran yang bekerjadisekitar Danau “Salt Great”. Kista tersebut diduga berusia sekitar lebih dari 10000 tahun(berdasarkan metoda “carbon dating”). Setelah diuji, ternyata kista-kista tersebut masihbisa menetas walaupun usianya telah lebih dari 10000 tahun. Siklus Hidup Siklus hidup artemia bisa dimulai dari saat menetasnya kista atau telur. Setelah 15 – 20jam pada suhu 25°C kista akan menetas manjadi embrio. Dalam waktu beberapa jamembrio ini masih akan tetap menempel pada kulit kista. Pada fase ini embrio akanmenyelesaikan perkembangannya kemudian berubah menjadi naupli yang sudah akanbisa berenang bebas. Pada awalnya naupli akan berwarna orange kecoklatan akibat masihmengandung kuning telur. Artemia yang baru menetas tidak akan makan, karena mulutdan anusnya belum terbentuk dengan sempurna. Setelah 12 jam menetas mereka akanganti kulit dan memasuki tahap larva kedua. Dalam fase ini mereka akan mulai makan,dengan pakan berupa mikro alga, bakteri, dan detritus organik lainnya. Pada dasarnyamereka tidak akan peduli (tidak pemilih) jenis pakan yang dikonsumsinya selama bahantersebut tersedia diair dengan ukuran yang sesuai. Naupli akan berganti kulit sebanyak 15kali sebelum menjadi dewasa dalam waktu 8 hari. Artemia dewasa rata-rata berukuransekitar 8 mm, meskipun demikian pada kondisi yang tepat mereka dapat mencapaiukuran sampai dengan 20 mm. Pada kondisi demikian biomasnya akan mencapi 500 kalidibandingakan biomas pada fase naupli.
Dalam tingkat salinitas rendah dan dengan pakan yang optimal, betina Artemia bisamengahasilkan naupli sebanyak 75 ekor perhari. Selama masa hidupnya (sekitar 50 hari)mereka bisa memproduksi naupli rata-rata sebanyak 10 -11 kali. Dalam kondisi superideal, Artemia dewasa bisa hidup selama 3 bulan dan memproduksi nauplii atau kistasebanyak 300 ekor(butir) per 4 hari. Kista akan terbentuk apabila lingkungannya berubahmenjadi sangat salin dan bahan pakana sangat kurang dengan fluktuasi oksigen sangattinggi antara siang dan malam hari.
Artemia dewasa toleran terhadap selang suhu -18 hingga 40 ° C. Sedangkan temperturoptimal untuk penetasan kista dan pertubuhan adalah 25 – 30 ° C. Meskipun demikian halini akan ditentukan oleh strain masing-masing. Artemia menghendaki kadar salinitasantara 30 – 35 ppt, dan mereka dapat hidup dalam air tawar salama 5 jam sebelumakhirnya mati.Variable lain yang penting adalah pH, cahaya dan oksigen. pH dengan selang 8-9merupakan selang yang paling baik, sedangkan pH di bawah 5 atau lebih tinggi dari 10dapat membunuh Artemia. Cahaya minimal diperlukan dalam proses penetasan dan akansangat menguntungkan bagi pertumbuhan mereka. Lampu standar grow-lite sudah cukupuntuk keperluan hidup Artemia. Kadar oksigen harus dijaga dengan baik untukpertumbuhan Artemia. Dengan suplai oksigen yang baik, Artemia akan berwarna kuningatau merah jambu. Warna ini bisa berubah menjadi kehijauan apabila mereka banyakmengkonsumsi mikro algae. Pada kondisi yang ideal seperti ini, Artemia akan tumbuhdan beranak-pinak dengan cepat. Sehingga suplai Artemia untuk ikan yang kita peliharabisa terus berlanjut secara kontinyu. Apabila kadar oksigen dalam air rendah, dan airbanyak mengandung bahan organik, atau apabila salintas meningkat, artemia akanmemakan bakteria, detritus, dan sel-sel kamir (yeast). Pada kondisi demikian merekaakan memproduksi hemoglobin sehingga tampak berwarna merah atau orange. Apabilakeadaan ini terus berlanjut mereka akan mulai memproduksi kista.


III. KESIMPULAN

3.1. Kesimpulan
• Artemia merupakan pakan alami yang sangat penting dalam pembenihan ikan laut, krustacea, ikan konsumsi air tawar dan ikan hias air tawar karena ukurannya yang sangat kecil.
• Kista Artemia sp. yang ditetaskan pada salinitas 15-35 ppt akan menetas dalam waktu 24-36 jam.
• Dekapsulisasi merupakan suatu proses untuk menghilangkan lapisan terluar dari kistaartemia yang “keras” (korion).
• Pada tiap tahapan perubahan instar nauplius mengalami moulting. Artemia dewasa memiliki panjang 8-10 mm ditandai dengan terlihat jelas tangkai mata pada kedua sisibagian kepala, antena berfungsi untuk sensori.
• Artemia sp. secara umum tumbuh dengan baik pada kisaran suhu 25-30 derajat celcius.Kista artemia kering tahan terhadap suhu -273 hingga 100 derajat celcius.
• Artemia dewasa toleran terhadap selang suhu -18 hingga 40 ° C. Sedangkan temperturoptimal untuk penetasan kista dan pertubuhan adalah 25 – 30 ° C.


DAFTAR PUSTAKA

Ambas, Zaldi. 2010.Pakan Alami : Artemia Klasifikasi Morfologi. http://zaldibiaksambas.files.wordpress.com/2010/10/artemia-salina1.pdf. Diaksespadatanggal 12 desember 2011
D’HONDT,JAN., LUC MOENS, JAN HEIP, ANDR D’HONDT and MASATOSHI KONDO. 1997. Oxygen-Binding Characteristics of Three Extracellular Haemoglobins of Artemiasalina. University of Antwerp: Belgium Dwirastina, Mirna. 2011.
PENGAMATAN ZOOPLANKTON DI SUNGAI SIAK,INDRA PURA BAGIAN HILIR RIAU, PEKANBARU. Teknisi Litkayasa pada Balai Riset Perikanan Perairan Umum, Mariana-Palembang. Handayani, Sri dan Mufti P. Patria. 2005.
KOMUNITAS ZOOPLANKTONDI PERAlRAN WADUK KRENCENG, CILEGON, HANTEN. FakultasBiologi, UniversitasNasional, Jakarta Jusadi, Dedi. 2003.
BUDIDAYA PAKAN ALAMI. DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL : Jakarta.

Sumber lain:
www.google.com
http://www.cargillsalt.com/sfbay/EV_brine.html
http://www.encyclopedia.com/html/b1/brineshr.asp
http://www.fact-index.com/b/br/brine_shrimp.html




KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis telah dapat menyelesaikan hasil makalah mengenai “Artemia sp” ini tepat pada waktu yang telah ditentukan.
Tidak lupa penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada para dosen Planktonologi karena telah memberikan arahan dan bimbingan sehingga makalah ini dapat disusun.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini terdapat kekurangan baik dari segi penyusunan, bahasa serta materi yang terdapat di dalamnya. Oleh karena itu penulis menerima kritikan yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah saya ini di masa yang akan datang. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.


Pekanbaru, September 2012

M.ZAKI


ORGAN-ORGAN TUBUH ORGANISME PERAIRAN YANG TERGANGGU JIKA TERJADI PERUBAHAN LINGKUNGAN

ORGAN-ORGAN TUBUH ORGANISME PERAIRAN YANG TERGANGGU JIKA TERJADI PERUBAHAN LINGKUNGAN



Oleh :
MUHAMMAD ZAKI
1004114509
Manajemen Sumberdaya Perairan






FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2012
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan kasihnya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah fisiologi lingkungan ini tepat pada waktu yang telah ditentukan.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah banyak membantu dalam penyelesaian makalah ini, baik dari dosen pembimbing mata kuliah Fisiologi Lingkungan, senior, dan khususnya kepada teman-teman yang telah banyak membantu dan ikut bekerjasama dalam pembuatan makalah ini. Makalah ini berisi tentang Organ-organ Tubuh Organisme Jika Terjadi Perubahan Lingkungan. Penulis telah berusaha menyajikan makalah ini dalam bahasa yang sederhana agar mudah dipahami oleh para pembaca. Namun, mungkin makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Untuk itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritikan yang bersifat membangun dari segala pihak demi kemajuan bersama dan untuk perbaikan makalah ini. Akhir kata, semoga apa yang terdapat dalam laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.


Pekanbaru, Desember 2012


MUHAMMAD ZAKI

DAFTAR ISI

Isi Halaman
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang 1
1.2 . Tujuan penulisan 2
1.3. Metode penulisan 2
II. TINJAUAN PUSTAKA 3
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil 5
3.2. Pembahasan 6

IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan 10
4.2 Saran 10

DAFTAR PUSTAKA







I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Degradasi kualitas air dapat terjadi akibat adanya perubahan parameter kualitas air. Perubahan tersebut dapat disebabkan oleh adanya aktivitas pembuangan limbah, baik limbah pabrik/industri, pertanian, maupun limbah domestik dari suatu pemukiman penduduk ke dalam badan air suatu perairan. Perairan merupakan satu kesatuan (perpaduan) antara komponen-komponen fisika, kimia dan biologi dalam suatu media air pada wilayah tertentu. Ketiga komponen tersebut saling berinteraksi, jika terjadi perubahan pada salah satu komponen maka akan berpengaruh pula terhadap komponen yang lainnya (Basmi, 2000).
Sungai sebagai salah satu jenis media hidup bagi organisme perairan, seringkali tidak dapat terhindarkan dari masalah penurunan kualitas perairan sebagai akibat dari perkembangan aktivitas manusia, seperti adanya aktivitas perindustrian yang berdiri disekitar daerah aliran sungai.
Pabrik-pabrik industri dengan tujuan tertentu banyak didirikan di wilayah indonesia yang memungkinkan akan semakin bertambah untuk masa akan datang. Dalam proses produksi, selain pabrik atau industri tersebut menghasilkan produk utamanya juga hasil lain yang berupa limbah. Limbah tersebut justru akan menimbulkan permasalahan-permasalahan yang cukup berarti apabila tidak ditangani dengan serius. Limbahyang dihasilkan itu mengandung berbagai zat yang bersifat racun dan sangat berbahaya bagi kehidupan. Salah satu diantaranya adalah logam berat. Dugan (1972) menyatakan bahwa ion-ion yang bersifat racun seperti sianida, kadmium, merkuri, kromium dan arsen sering dibuang dari pabrik-pabrik ke danau atau sungai.
Oleh karena itu tampaklah dengan jelas bahwa perairan merupakan habitat yang paling terancam pencemaran, karena limbah yang berbentuk cair pada umunya dibuang kesaluran air(sungai), dengan demikian tidak sedikit perairan sungai dan laut yang tercemar oleh limbah industri. Hal ini mengakibatkan terganggunya kehidupan biota-biota diperairan tersebut.
1.2. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui organ-organ tubuh organisme perairan terutama pada ikan yang terganggu jika terjadi perubahan lingkungan.
1.3. Metode Penulisan
Adapun metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah dengan cara studi literatur, dimana berbagai literatur dikumpulkan kemudian dikaitkan dengan permasalahan yang ada kemudian dideskripsikan.

















II. TINJAUAN PUSTAKA
Pencemaran perairan adalah suatu perubahan fisika, kimia dan biologi yang tidak dikehendaki pada ekosistem perairan yang akan menimbulkan kerugian pada sumber kehidupan, kondisi kehidupan dan proses industri (Odum, 1971).
Logam adalah unsur alam yang dapat diperoleh dari laut, erosi batuan tambang, vulkanisme dan sebagainya (Clark, 1986). Umumnya logam-logam di alam ditemukan dalam bentuk persenyawaan dengan unsur lain, sangat jarang yang ditemukan dalam elemen tunggal. Unsur ini dalam kondisi suhu kamar tidak selalu berbentuk padat melainkan ada yang berbentuk cair, misalnya merkuri (Hg).
Dalam badan perairan, logam pada umumnya berada dalam bentuk ion-ion, baik sebagai pasangan ion ataupun dalam bentuk ion-ion tunggal. Sedangkan pada lapisan atmosfir, logam ditemukan dalam bentuk partikulat, dimana unsur unsur logam tersebut ikut berterbangan dengan debu-debu yang ada di atmosfir (Palar, 2004).
Logam berat biasanya sangat sedikit dalam air secara ilmiah kurang dari 1 g/l. Menurut Palar (2004) kelarutan dari unsur-unsur logam dan logam berat dalam badan air dikontrol oleh : (1) pH badan air, (2) jenis dan konsentrasi logam dan khelat (3) keadaan komponen mineral teroksida dan sistem berlingkungan redoks.
Aktifitas yang ada dalam rangka memanfaatkan potensi yang terkandung di wilayah pesisir, seringkali saling tumpang tindih, sehingga tidak jarang pemanfaatan sumberdaya tersebut justru menurunkan atau merusak potensi yang ada. Hal ini karena aktifitas-aktifitas tersebut, baik secara langsung maupun tidak
langsung, mempengaruhi kehidupan organisme di wilayah pesisir, melalui perubahan lingkungan di wilayah tersebut. Sebagai contoh, adanya limbah buangan baik dari pemukiman maupun aktifitas industri, walaupun limbah ini mungkin tidak mempengaruhi tumbuhan atau hewan utama penyusun ekosistem pesisir di atas, namun kemungkinan akan mempengaruhi biota penyusun lainnya. Logam berat, misalnya mungkin tidak berpengaruh terhadap kehidupan tumbuhan
bakau (mangrove), akan tetapi sangat berbahaya bagi kehidupan ikan dan udang-udangnya (krustasea) yang hidup di hutan tersebut (Bryan, 1976).
Pencemaran perairan pesisir didefinisikan sebagai dampak negatif, pengaruh yang membahayakan terhadap kehidupan biota, sumberdaya dan kenyamanan ekosistem perairan serta kesehatan manusia dan nilai guna lainnya dari ekosistem perairan yang disebabkan secara langsung oleh pembuangan bahan-bahan atau limbah ke dalam perairan yang berasal dari kegiatan manusia (Gesamp, 1986).
Salah satu jenis unsur kimia yang bisa menyebabkan terjadi kerusakan ekosistem perairan adalah unsur logam berat. Sebagaimana diketahui unsur logam berat yang masuk ke perairan berasal dari berbagai kegiatan indutsri selain bersumber dari alam sendiri.
Ginjal berfungsi untuk filtrasi dan mengekskresikan bahan yang tidak dibutuhkan oleh tubuh, termasuk polutan seperti logam berat yang toksik.
Insang sebagai alat pernafasan ikan, juga digunakan sebagai alat pengukur tekanan antara air dan dalam tubuh ikan (osmoregulasi). Affandi dan Tang (2002), mengemukakan bahwa insang pada ikan terbagi dua yaitu insang dalam dan insang luar. Insang dalam seperti insang septal (pada ikan elasmobranchii) dan insang tertutup (ikan teleostei). Tiap lengkung insang mempunyai filament (lamella primer) yang banyak dimana jumlahnya mencapai ratusan. Jumlah filament berbeda untuk tiap ikan tergantung pada beberapa faktor seperti ukuran dan luas permukaan tubuh serta habitat hidupnya. Tiap-tiap filament insang mempunyai banyak lamella sekunder dengan dinding tipis.








III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil
Limbah dari aktifitas pabrik yang membuang limbah cairnya ke Sungai Kampar umumnya berupa limbah cair yang mengandung logam berat. Diketahui bahwa sifat logam berat tersebut mudah mengendap di dasar perairan dan berikatan dengan komponen kimia lainnya, sehingga kemungkinan terjadinya pengakumulasian logam berat tersebut di dasar perairan juga menjadi lebih besar (Riani, 2004).
Oleh karena itu untuk melihat efek bahan pencemar terutama logam berat di dalam perairan, diperlukan hewan uji yang berkaitan langsung dengan kandungan logam berat di dasar perairan atau dengan kata lain perlu mendeteksinya pada hewan uji, khususnya ikan yang habitatnya di dasar perairan. Salah satu jenis ikan dasar yang banyak terdapat di Sungai Kampar mulai dari hulu sampai hilir dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat setempat dan mempunyai nilai ekonomis (jual) yang tinggi adalah ikan baung.
Menurut Erlangga (2007) Interaksi kandungan Pb dengan objek perlakuan (air, sedimen, insang dan ginjal ikan) Kandungan logam pada insang dan ginjal ikan mengakibatkan terjadinya kerusakan jaringan pada kedua organ tersebut.
Ginjal mempunyai peran utama dalam ekskresi metabolisme, pencernaan dan tempat penyimpanan berbagai unsur, termasuk bahan racun.
Menurut erlangga (2007), bahan pencemar (Cd dan Pb) yang pertama sekali masuk ke dalam tubuh ikan melalui organ pernafasan yaitu insang menyaring bahan pencemar masuk ke dalam tubuh, selanjutnya didistribusikan ke seluruh tubuh melalui aliran darah dan akhirnya terakumulasi di ginjal ikan. Peningkatan kandungan logam Pb dan Cd di ginjal terjadi karena intensitas masuknya logam ke dalam tubuh ikan yang terus menerus, sehingga ginjal mempunyai keterbatasan dalam menganulir bahan pencemar yang terus masuk ke dalam tubuh. Lama kelamaan akan bisa menyebabkan perubahan dalam bentuk morfologi, reproduksi dan genetika bahkan bisa menyebabkan kematian ikan karena keterbatasan organ tubuh untuk mengeliminasi bahan pencemar sangat kecil dibandingkan dengan intensitas atau banyaknya bahan pencemar yang masuk ke dalam tubuh ikan tersebut.
Ikan mas (cyprinus carpio) ini banyak hidup di sungai-sungai dan kolam air tawar, dimana jika sungai-sungai tersebut tercemar logam berat, maka akan dapat menyebabkan gangguan pada organ ikan tersebut khususnya organ dalam salah satunya adalah gonad, sehingga akan berpengaruh terhadap reproduksi dan perkembangbiakan dari ikan tersebut. Bryan (1978) menyatakan bahwa pengaruh logam berat Zn terhadap organisme perairan ditunjukkan bahwa logam tersebut dapat menimbulkan gangguan pada tingkat molekul, sel, fisiologi dan ekologinya.
Insang adalah organ berhubungan dengan pernapasan utama dari ikan. insang Epithelium dari ikan adalah lokasi pertukaran gas yang utama, keseimbangan asam basa, regulasi ion. Fungsi organ pernafasan ini adalah hal yang penting bagi kehidupan ikan, dan untuk seluruh keberadaan ikan itu. Oleh karena itu, jika ikan diekspos ke lingkungan yang tercemar, akan membahayakan fungsi utama dari organ pernafasan ikan tersebut.

3.2. Pembahasan
Bahan pencemar yang masuk ke perairan akan tersebar dan akan mengalami proses pengendapan, sehingga terjadi penyebaran zat pencemar. Besar kecilnya nilai kisaran dari parameter terukur tergantung dari volume air pengencer, toksisitas/intensitas bahan pencemar, iklim, kedalaman, arus, topografi dan geografi, sehingga terjadi perubahan sifat fisik, kimia dan biologi dan ketiganya akan saling berinteraksi. Apabila salah satu faktor terganggu atau mengalami perubahan akan berdampak pada ekologi perairan.
Penyebaran bahan pencemar terutama logam berat dalam perairan dengan proses pengendapan akan mempengaruhi siklus hidup dari hewan perairan terutama ikan. Dengan terjadinya proses pengendapan bahan pencemar di dasar perairan akan memberikan dampak terakumulasinya bahan pencemar dalam tubuh organisme melalui rantai makanan. Ikan baung salah satu jenis ikan yang hidup di dasar perairan Sungai Kampar dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat setempat, padahal ikan baung baik secara langsung maupun tidak langsung, terkena dampak dari bahan pencemar yang berada di dasar perairan atau dengan kata lain akan terkontaminasi bahan pencemar.
Limbah pabrik yang masuk ke perairan sungai dan mengalir ke perairan muara mengakibatkan perubahan kualitas perairan dan mengganggu kehidupan organisme perairan, bahkan dapat menyebabkan kematian bagi organisme (ikan). Hal ini disebabkan organisme perairan akan mengakumulasi bahan pencemar yang masuk ke dalam tubuhnya. Pada suatu saat konsentrasinya akan melebihi ambang batas, sehingga mengakibatkan kerusakan organ bahkan dapat menyebabkan kematian bagi organisme tersebut.
Kerusakan organ yang terkena dampak/akibat dari limbah, terutama logam berat yang pertama kali adalah insang, karena insang merupakan organ pernafasan yang berinteraksi langsung dengan air untuk mendapatkan oksigen. Selain organ insang yang memperlihatkan reaksi terhadap masuknya bahan pencemar ke dalam tubuh, organ ginjal juga memberikan reaksi terhadap bahan pencemar karena sesuai dengan fungsinya ginjal berfungsi menetralisir racun (bahan pencemar) yang telah masuk ke dalam tubuh.
Peristiwa timbulnya pengaruh berbahaya atau efek toksik racun atas makhluk hidup, melalui beberapa proses. Pertama kali makhluk hidup mengalami pemejanan dengan racun. Berikutnya, setelah mengalami absorpsi dari tempat pemejanannya, racun atau metabolitnya kan terdistribusi ke tempat aksi (sel sasaran atau reseptor) tertentu yang ada di dalam diri makhluk hidup.
Ditempat aksi ini, kemudian terjadi interaksi antara racun atau metabolitnya dan komponen penyusun sel sasaran atau reseptor. Dan sebagai akibat sederetan peristiwa biokimia dan biofisika berikutnya, akhirnya timbul pengaruh berbahaya atau efek toksik dengan wujud dan sifat tertentu.
Toksisitas logam-logam berat yang melukai insang dan struktur jaringan luar lainnya, dapat menimbulkan kematian terhadap ikan yang disebabkan oleh proses anoxemia, yaitu terhambatnya fungsi pernapasan yakni sirkulasi dan eksresi dari insang. Unsur-unsur logam berat yang mempunyai pengaruh terhadap insang adalah timah, seng, besi, tembaga, kadmium dan merkuri. Percobaan yang dilakukan terhadap ikan Carasius auratus menunjukkan bahwa urut-urutan penyerapan logam berat oleh chemoreceptor (taste bund) dari ikan adalah merkuri, tembaga, seng, dan timah (Widodo,1980).
















IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
Terjadinya perubahan lingkungan sangat berpengaruh sekali terhadap organisme perairan terutama organisme ikan. Berbagai perubahan lingkungan dapat disebabkan karena masuknya berbagai limbah mengandung logam berat yang berbahaya kedalam perairan. Dimana perubahan yang terjadi dapat mengakibatkan terjadinya berbagai kerusakan pada organ-organ tubuh ikan diantaranya organ insang, ginjal dan bahkan organ reproduksi.
Kerusakan berbagai organ pada tubuh organisme tersebut pastinya akan sangat berbahaya bagi organisme tersebut karena berbagai logam berat yang terakumulasi didalam tubuh akan berakibat kematian pada organisme tersebut karena terganggunya berbagai sistem didalam tubuhnya.


4.2. Saran
Berbagai kegiatan industri yang dapat menghasilkan berbagai limbah yang mengandung logam berat hendaknya memilki sistem pengolahan limbah yang baik agar limbah tidak dibuang langsung keperairan umum.




DAFTAR PUSTAKA
Affandi, R., dan Tang, U. 2002. Fisiologi Hewan Air. University Riau Press. Riau.217 p.

Basmi, J. 2000. Planktonologi : Plankton Sebagai Bioindikator Kualitas Perairan. IPB. Bogor

Bryan, G.W. 1976. Heavy Metal Contamination in the Sea dalam R. Johson (Ed).
Marine Pollution. London Academic Press.

Erlangga. 2007. Efek Pencemaran Perairan Sungai Kampar Di Propinsi Riau Terhadap Ikan Baung(Hemibagrus Nemurus). Sekolah Pasca Sarjana IPB. Bogor. Tesis. (diakses pada www.google.co.id)

Odum, E.P. 1971. Fundamental of Ecology. 3rd edition. W.B Saunders Company.
Philadelphia.

[GESAMP] Group Expert on Scientific Aspect of Marine Pollution. 1986. Report
of The Seven Session. WHO (World Health Organization).

Widodo, J, 1980. Toksisitas Biota Laut Disebabkan oleh Pencemaran Merkuri. LPPL Semarang. 6 p.


Sumber Lain :

www.google.com



Jumat, 04 Januari 2013

Laporan Limnologi Debit Air

I. PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang
Debit air adalah jumlah air yang mengalir dalam suatu penampang tertentu (sungai / saluran / mata air). Pemilihan lokasi pengukuran debit air : 1. dibagian sungai yang relatif lurus, 2. jauh dari pertemuan cabang sungai 3. tidak ada tumbuhan air, 4. aliran tidak turbelenl, 5. aliran tidak melimpah melewati tebing sungai (Penuntun Praktikum Limnologi)
Debit air merupakan jumlah air yang mengalir dari suatu penampang tertentu (sungai/saluran/mata air) persatuan waktu (liter/detik,m3/detik, dm3/detik). Pengukuran debit air ini di lakukan pada perairan lentik yaitu perairan yang sifatnya dangkal. Seperti yang telah dilakukan di waduk Faperika.
Air merupakan bahagian yang esensial dari protoplasma dan dapat dikatakan bahwa semua jenis kehidupan bersifat aquatik. Dalam prakteknya suatu habitat aquatik apabila mediumnya baik eksternal maupun internal adalah air.
Waduk merupakan salah satu perairan yang sudah lama dimanfaatkan oleh sebagian manusia untuk menyokong kehidupannya. Ekosistem waduk merupakan media hidup berbagai jenis biota air. Pada kondisi yang baik akan sangat berarti bagi kelangsungan biota tersebut. Ekosistem perairan dari lingkungan biotik dan abiotik yang meliputi sifat-sifat fisika, kimia, dan biologi yang saling berinteraksi antara yang satu dengan yang lain.
Limnologi merupakan ilmu yang mempelajari aspek dinamika fisika, kimia, dan biologi perairan umum semakin berkembang pesat di Indonesia. Hal ini karena semakin pentingnya arti ilmu tersebut dalam pengelolaan perairan tawar bagi umat manusia.
Menurut perintis ilmu limnologi, F. A. Forel (1892) menyatakan bahwa limnologi adalah oseanografi danau atau hidrobiologi perairan tawar. Edgardo Baldi, pakar Limnologi asal Itali terkenal menempatkan Limnologi terpisah dari disiplin ilmu yang lain, derngan mendefenisikan Limnologi sebagai ilmu yang mempelajari hubungan dari proses-proses dan metode, dimana bahan serta energi ditransformasikan dalam suatu danau.

1.2. Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari praktikum mengenai Pengukuran Debit Air adalah agar mahasiswa dapat mengukur debit air dengan menggunakan beberapa metode untuk mengukur debit air seperti Emboys Float Method dan Cara Kecepatan – Luas.
Manfaat praktikum ini bagi mahasiswa adalah dapat mempraktekkan dan menerapkan secara langsung terjun ke lapangan dengan menentukan cara pengukuran debit air dengan metode – metode yang ada.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Air adalah zat yang mengelilingi semua organisme dan merupakan bagian-bagian terbesar pembentuk tumbuh-tumbuhan dan binatang air (Nybakken, 1982). Kualitas air dan kuantitas air suatu perairan yang sangat dipengaruhi parameter fisika, kimia, biologi (Bishop, 1973).
Waduk atau danau buatan adalah genangan air yang terbentuk karena pembendungan aliran air bukan alami (man made lake) pembendungan ini dapat mengubah ekosistem perairan mengalir (lotik) menjadi ekosistem perairan tergenang (lentik) yang akan mempengaruhi kehidupan biota asal (Sihotang, 1988). Uktoselya (1991) menyatakan bahwa Arus merupakan suatu gerakan air yang mengakibatkan perpindahan horizontal dan vertikal masa air.
Umumnya ciri-ciri danau buatan ini adalah adanya fluktuasi tinggi permukaan air dan tingginya turbiditas air (Koesoebiono, 1997), selanjutnya Siagian (1997) mengemukakakan bahwa pada waduk terjadi fluktuasi air masuk dan air keluar sehingga ada pergantian nutrien yang menyebabkan produksi primer pada waduk lebih besar dibandingkan dengan danau.
Nybakken (1992) menambahkan masa air permukaan gerakannya dipengaruhi oleh angin, sedangkan untuk masa air dalam dipengaruhi oleh perubahan air permukaan. Sebelumnya Hutabarat dan Evans (1985) menyatakan bahwa arus berperan penting dalam proses abrasi pantai dan penyebaran polutan atau unsur lain. Said, Panjaitan, dan Syafriadiman (1993) selanjutnya menjelaskan bahwa gerakan masa air ini dipengaruhi oleh angin tekanan dan adanya pasang surut serta keadaan topografi.
Arus ditandai oleh adanya arah, kecepatan serta gerakannya secara horizontal. Untuk dapat membedakan mecam-macam arus, perlu ditentukan suatu klasifikasi arus antara lain menurut Pardjaman (1977) adalah : 1. segi tenaga penyebabnya, 2. letak terhadap kedalaman air, 3. sifat-sifat gerakannya, 4. parameter fisika dan kimianya, 5. kestabilan arah.
Arus akan dipengaruhi oleh topografi dasar perairan, oleh karena itu distribusi fraksi sedimen akan sangat tergantung dari bentuk dasar perairan terutama keadaan kedalaman perairan mempengaruhi bentuk dan pola arus (Pangabean, 1994).
Kecepatan dan arus tidak selalu mengikuti pola tertentu, hal ini disebabkan kondisi perairan muara yang sangat kompleks dan merupakan kombinasi dari beberapa faktor. Mc. Dowel dan O’ Connor (1977) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pola arus di perairan muara diantaranya adalah pasang surut dan arus limpasan air sungai.
Penentuan debit air sungai diperlukan untuk mengetahui besarnya air yang mengalir dari sungai ke laut. Dalam penentuan debit air sungai perlu di ketahui luas penampang stasiun, yaitu dengan mengukur kedalaman, masing-masing titik pengukuran (Ongkosongo, 1980)





















III. METODE PRAKTIKUM


3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum yang berjudul “Pengukuran Debit Air” ini dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 28 Oktober 2011 pukul 14.00 WIB sampai dengan selesai. Bertempat di Waduk dan di Laboratorium Limnologi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau.

3.2. Bahan dan Alat
Bahan dan alat yang digunakan dalam praktikum adalah meteran, bola pimpong, pena, pensil, penggaris, tali plastik, dan buku penuntun, dan papan 90 north weir.

3.3. Metode Praktikum
Metode praktikum yang digunakan adalah metode pengamatan secara langsung terhadap objek di waduk Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau Pekanbaru. Sedangkan pengolahan data dilakukan di laboratorium Limnologi.

3.4. Prosedur Praktikum
Praktikum ini dilakukan langkah-langkah kerja sebagai berikut: menentukan lokasi, mengukur panjang selokan yang akan diukur kecepatannya, mengukur waktu yang digunakan untuk menempuh jarak yang telah di tentukan, menetukan konstanta yang digunakan dengan melihat keadaan dasar perairan, membentuk daerah yang akan di lalui bola pimpong dengan menggunakan tali plastik, mengukur kedalaman rata-rata yang di lalui bola pimpong.





IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Hasil
Di bawah ini didapatkan hasil perhitungan pengukuran debit air dengan memakai metode antara lain:
4.1.1 Emboys Float Method
Rumus yang digunakan:
R = WDAL/T
Dik : Lebar I : 1,04 m
Lebar II : 1,03 m
Lebar III : 1,05 m
Rata-rata lebar (W) : 1,04 + 1,03 + 1,05
3
: 1,04 m
Kedalaman I : 0,56 m = 56 cm
Kedalaman II : 0,61 m = 61 cm
Kedalaman III : 0,46 m = 46 cm
Rata-rata kedalaman (D) : 0.56 + 0.61 + 0.46
3
: = 0.51 m
Debit air (R) untuk t : 62 detik
Jarak yang ditempuh pelampung : 3000 cm = 3 m

R = WDAL/T
= 1,04 x 0,51 x 0.8 x 3
62

= 0,02 m3/detik




4.1.2 Metode Weir
Metode weir yang digunakan adalah 90 North weir. Dengan menggunakan rumus :


Terlebih dahulu mencari sisi segitiga pada 90 north Weir dengan cara : pada sisi miring segitiganya ukuran 3 cm dan sisi mendatarnya ukuran 0,5 cm.
90 North Weir : Q = 2,5 H 5/2

= 2,5 x 5,9 5/2

= 2,5 x 84,55

= 211,38
4.2. Pembahasan
Menurut Sachlan (1980) perairan umum merupakan sumberdaya yang mempunyai potensi besar baik bagi perikanan maupun untuk kehidupan manusia. Air merupakan bagian yang esensial dari protoplasma dan dapat dikatakan bahwa semua jenis makhluk hidup bersifat aquatic.
Menurut Swingle (1968) waduk adalah suatu perairan tergenang dan mempunyai tingkat kesuburan perairan yang dipengaruhi oleh partikel-partikel baik dari luar maupun dari dalam. Waduk Faperika merupakan daerah genangan air yang terbentuk karena pembendungan air sungai tadah hujan bukan alami. Waduk sebagai salah satu perairan umum yang juga merupakan wilayah perikanan yang perlu dikelola dengan baik agar keberadaaannya dapat dimanfaatkan sebagaimana fungsinya.
Pengukuran debit air sungai sangat diperlukan untuk mengetahui besarnya volume air yang mengalir dari sungai ke laut. Dalam Pngukuran debit air sungai perlu di ketahui luas penampang stasiun, yakni dengan mengukur kedalaman, masing-masing titik pengukuran (Ongkosongo, 1980)
Kecepatan dan arus pada sungai tidak selalu mengikuti pola tertentu, mengapa? Hal ini disebabkan kondisi perairan muara yang sangat kompleks dan merupakan kombinasi dari beberapa faktor. Mc. Dowel dan O’ Connor (1977) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pola arus di perairan muara diantaranya adalah pasang surut dan arus limpasan air sungai.
Arus merupakan suatu gerakan air yang mengakibatkan perpindahan horizontal massa air. Untuk massa air permukaan gerakan dipengruhi moleh angin. Fenomena pergerakan ini terjadi seriap hari dari waktu ke wakti dan dari satu tempat ke tempat lainnya.Arus berperan penting dalam abrasi dan penyebaran polutan atau arus lainnya. (Hutabarat dan Evans, 1985).
Waduk Faperika nerupakan satu-satunya waduk yang ada di kampus Faperika UNRI. Waduk ini terbentuk akibat pembendungan air sungai yang melintasi daerah Faperika. Pada pengukuran debit air yang di lakukan dialiran waduk Faperika di ketahui bahwa dengan menggunakan metode Emboys Float Method didapatkan hasil 0,0010 m3/detik. Sedangkan besar debit air bila menggunakan metode weir didapat hasil sebesar 0,4531 m3/s.





V. KESIMPULAN DAN SARAN



5.1. Kesimpulan
Dari praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa Waduk Faperika merupakan daerah genangan air yang terbentuk karena pembendungan air sungai tadah hujan bukan alami. Waduk sebagai salah satu perairan umum yang juga merupakan wilayah perikanan yang perlu dikelolah dengan baik agar keberadaaannya dapat dimanfaatkan sebagaimana fungsinya. Bahwa kini besar debit air yang mengalir pada saluran pengeluaran waduk menurut Metode Weir 211,38 m3/s untuk Emboys Float Method 0,02 m3/detik dengan Cara Kecepatan- Luas didapat hasil sebesar.

5.2. Saran
Dari praktikum yang telah dilaksanakan hendaknya data yang di ambil dalam pengukuran haruslah secara sempurna. Selain itu sebelum melakukan praktikum para praktikan hendaknya sudah menguasai bahan-bahan materi yang akan dipraktikumkan sehingga memudahkan untuk pemahamannya.










DAFTAR PUSTAKA


Adriman. 2002. Kualitas Dan Distribusi Spasi Karakteristik Fisika Kimia Perairan Sungai Sulir Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Bengkalis. Berkala Perikanan Terubuk ISSN 0126-4265 Vol. 29, No. 2.

Asdak, C. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjamada University : Jogjakarta. 618 hal.

Clark,J.,R,. 1994. Phytoplankton. Edwar Amild Ltd. London. 115 pp.

Fauzi. 1996. Kumpulan Istilah Perikanan. Lembaga Yayasan Informasi dan Kajian. Pekanbaru. 203 hal. (tidak diterbitkan)

Hehanusa, P.E., dan Haryani, G.,s. 2001. Kamus Limnologi (Perairan Darat). Panitia Nasional Program Hidrologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.230 hal.
Mahida, U.N. 1984. Pencemaran Air Dan Pemanfaatan Limbah Industri. Rajawali : Jakarta. 543 hal.

Odum. 1971. Fundamentalis Of Ecologi. 3rd Ed. W. B. Sounders Comp. Philadelphia. 574 pp


Sachlan,M. 1980. Planktonologi. Diktat Perkuliahan Planktonologi. Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan UNRI : Pekanbaru. 63 hal.

Sihotang, C,.1988. Limnologi II. Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan UNRI : Pekanbaru. 64 hal.

Sihotang,C. dan Efawani. 2006. Penuntun Praktikum Limnologi. Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan UNRI : Pekanbaru. 26 hal.

Swingle, A.,S. 1968. Standarization Of Chemical And Analysis For Water And Pond Fish Culture. Fisher Report 44 (4) 397-421 pp.









KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis telah dapat menyelesaikan hasil laporan praktikum mengenai “Penentuan Debit Air” ini tepat pada waktu yang telah ditentukan.
Tidak lupa penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada para asisten Biologi Perikanan karena telah memberikan arahan dan bimbingan sehingga laporan ini dapat disusun.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini terdapat kekurangan baik dari segi penyusunan, bahasa serta materi yang terdapat di dalamnya. Oleh karena itu penulis menerima kritikan yang sifatnya membangun demi kesempurnaan laporan praktikum di masa yang akan datang. Semoga laporan praktikum ini bermanfaat bagi kita semua.







Pekanbaru, 03 Oktober 2011


Muhammad Zaki

DAFTAR ISI

Isi Halaman
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
DAFTAR LAMPIRAN iii
I. PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Tujuan dan Manfaat 2

II. TINJAUAN PUSTAKA 3
III. METODE PRAKTIKUM 5
3.1. Waktu dan Tempat 5
3.2. Bahan dan Alat 5
3.3. Metode Praktikum 5
3.4. Prosedur Praktikum 5
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 6
4.1. Hasil 6
4.2. Pembahasan 7
V. KESIMPULAN DAN SARAN 9
5.1. Kesimpulan 9
5.2. Saran 9
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN











LAMPIRAN
























Nama Asisten: Amat
Hari/kelompok: Jumat/II/sesi II


LAPORAN PRAKTIKUM LIMNOLOGI

PENGUKURAN DEBIT AIR


OLEH

Muhammad Zaki
1004114509
Manajemen Sumberdaya Perairan



















LABORATORIUM LIMNOLOGI
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2011

Laporan Biola

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Lautan di dunia merupakan kesatuan ekosistem dimana serangkaian komunitas dapat mempengaruhi faktor-faktor fisik dan kimia air laut di sekelilingnya. Ekosistem yang besar ini dapat dibagi menjadi daerah-daerah kecil dimana parameter fisika dan kimia mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap populasi dari daerah tersebut (Nybakken, 1998).Laut, seperti halnya daratan, dihuni oleh biota, yakni tumbuhan-tumbuhan hewan dan mikroorganisme hidup.
Biologi laut, yakni ilmu pengetahuan tentang kehidupan biota laut, berkembang begitu cepat untuk mengungkap rahasia kehidupan berbagai jenis biota laut yang jumlah jenisnya luar biasa besarnya dan keanekaragaman jenisnya luar biasa tingginya.Tingginya, keanekaragaman jenis biota di laut barangkali hanya dapat ditandingi oleh keanekaragaman jenis biota di hutan hujan tropik di darat.
Secara geografi Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan dengan kekayaan sumber daya alam laut yang berpotensi untuk dimanfaatkan secara lestari. Sumber daya alam laut tersebut antara lain terdiri atas berbagai jenis ikan, moluska,dan krustase. Masyarakat pesisir sejak lama telah memanfaatkan sumber daya alam laut tersebut sebagai sumber makanan, mineral, obat-obatan, dan energi (Gordon 2000,South & Skelton,2000).
Biota Laut menghuni hampir semua bagian laut, mulai dari pantai permukaan laut sampai dasar laut yang terjeluk sekalipun. Keberadaan biota laut ini sangat menarik perhatian manusia, bukan saja karena kehidupannya yang penuh rahasia, tetapi juga karena manfaatnya yang besar bagi kehidupan manusia. Pemanfaatan biota laut yang makin hari makin meningkat dibarengi oleh kemajuan pengetahuan tentang kehidupan biota laut yang tertampung dalam ilmu pengetahuan alam laut yang dinamakan biologilaut (marine biology).
Tidak kurang dari 833 jenis tumbuh-tumbuhan dilaut (alga, lamun dan mangrove), 910 jenis karang (Coelenterata), 850 jenis spon (Porifera), 2500 jenis kerang dan keong (Mollusca), 1502 jenis udang dan kepiting (Crustacea),745 hewan berkulit duri( Echinodermata), 2000 jenis ikan ( Pisces), 148 jenis burung laut (Aves), dan 30 jenis hewan menyusui (Mammalia), diketahui hidup di laut. Di samping itu tercatat juga tujuh jenis penyu dan tiga jenis buaya (Reptilia). ((Romimohtarto, 2005)
Laut adalah bagian dari bumi kita yang tertutup oleh air asin. Kata laut sudah dikenal sejak dulu kala oleh bangsa kita dan bahkan oleh bangsa-bangsa di beberapa. Negara di Asia Tenggara. Laut lepas yang luas dibatasi oleh benua-benua kita kenal sebagai samudra.
Secara ekologis terdapat fenomena dinamis seperti: abrasi, akresi, erosi, deposisi dan intrusi air laut. Di samping itu, masih terdapat juga fenomena nonalamiah seperti: pembabatan hutan mangrove untuk pertambakan, pembangunan dermaga/jetty untuk pendaratan ikan dan reklamasi pantai. Gejala yang umum terjadi di wilayah kepesisiran adalah interaksi faktor alam dan aktivitas manusia secara bersamaan, sebagai penyebab adanya ketidakseimbangan siklus biogeokimia (Cook dan Doornkamp, 1990).
Untuk itu dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan tekonologi manusia mulai menyadari pentingnya laut dan potensi sumber daya di dlamnya. Birowo (1991), mengemukakan bahwa laut bermanfaat sebagai sumber atau media seperti sebagai pangan, transportasi, sumber mineral, bahan baku, industri, bahari, tambang, pertahanan dan keamanan, sumber energi, pemukiman, pariwisata dan tempat limbah.

1.2. Tujuan
Dengan dilaksanakannya praktikum lapangan tersebut, diharapkan mahasiswa tidak hanya dapat mengenal berbagai objek studi dalam mata kuliah Biologi Laut tersebut secara teoritis (baik morfologi maupun anatominya) tetapi juga secara langsung (melalui identifikasi langsung). Ditambah juga dapat mengenal habitat dan kebiasaan hidup objek tersebut di alam. Ini sangat penting, mengingat dalam penelitian akhir mahasiswa dituntut mampu melakukan berbagai prosedur penelitian secara mandiri.
Manfaat praktikum adalah untuk menambah pengetahuan dan wawasan praktikan, untuk mendapatkan data dan informasi mengenai organisme laut terutama yang hidup di daerah pantai.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Lingkungan laut sangat luas cakupannya dan sangat majemuk sifatnya. Karena luasnya dan majemuknya lingkungan tersebut, tiada satu kelompok biota laut pun yang mampu hidup di semua bagian lingkungan laut tersebut dan segala kondisi lingkungan yang majemuk. Mereka dikelompok-kelompokkan oleh pengaruh sifat-sifat lingkungan yang berbeda-beda kedalam lingkungan yang berbeda pula. Para ahli oseanologi membagi-bagi lingkungan laut menjadi zona-zona atau mintakat-mintakat menurut criteria-criteria yang berbeda-beda. (Romimohtarto, 2001)
Menurut Dahuri (2003) zona intertidal atau zona litoral adalah daerah pantai yang terletak diantara pasang tertinggi dan surut terendah, daerah ini mewakili daerah peralihan dari kondisi lautan ke kondisi daratan (ecoton), dan memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi seperti estuaria.
Menurut J. C. Bribbs (1974) zona interdal atau zona litoral adalah daerah kawasan pantai yang terletak antara pasang laut tertinggi dan pasang surut terendah. Litoral adalah daerah yang terletak diantara daratan dan lautan yang masih dipengaruhi oleh air pasang yang dikenal sebagai pantai laut (sea shore).
Epifauna adalah hewan yang hidup di atas permukaan substrat sedimen atau tanah (Dahuri, 2003). Khusus pada zona intertidal, hewan-hewan yang hidup di atas permukaan pasir (epifauna) lebih sedikit di jumpai di bandingkan dengan daerah subtidal (Wardiyatmoko dan Eka Sudarba, 1992). Umumnya kelomppok epifauna tergolong grazer yaitu pemakan permukaan substrat (Dahuri, 1996).
Infauna adalah hewan yang hidup didalam sedimen atau dibawah substrat (Dahuri, 1996). Organisme penghuni intertidal merupakan organisme air yang selalu berlindung dengan baik dari kekeringan di pantai yang berpasir lebih halus dari pada yang berpasir kasar atau kerikil (Tim Geografi, 1999).
Odum (1971) menyatakan bahwa perkembangan maksimum dari epifauna dijumpai di daerah pasang surut, tetapi dapat juga meluas di daearah yang lebih dalam. Sedangkan infauna mencapai perkembangan yang maksimum di daerah yang lebih dalam dari epifauna. in-fauna yaitu yang hidup didalam sedimen; dan epi-fauna yaitu yang hidup menempel pada daun-daun/ rumput laut dan di atas dasar laut.
Komunitas fauna bentik terdiri dari lima kelompok, yaitu Mollusca, Polychaeta, Crustacea, Echinodermata dan kelompok lain yang terdiri dari beberapa takson kecil Sipunculidae (owak-owak ), Pognophora dan lain-lain.
Fungia danai adalah pertapa karang, sering ditemukan dengan diameter melebihi kaki yang melintasi. Fungia yang dirancang unik, berbentuk kubah sedikit alami yang mungkin ada "peot" atau dilipat ujungnya. Semua pada umumnya cembung di atas dan agak cekung di bagian bawah. Sebagian besar ditemukan pada puing-tercakup dalam air dangkal. Berwarna dalam hampir setiap warna cerah dari pelangi,. fungia ada polyps yang biasanya tetap sepanjang hari di alam, baru memberi makan pada malam hari. Polyps memperpanjang secara acak (Chadwick, Nanette, 1988).
Nerita costata adalah bahasa Yunani yaitu Nereites atau nerites adalah kata siput laut dari berbagai jenis. Costata berasal dari bahasa Latin kata Costa, memiliki tampilan ribs, atau tulang rusuk. Nerita costata tumbuh dengan panjang antara 20 - 35 mm.. Di luar bibir dan ujung yang tajam (Wilson, B. 1993).
Scylla serrata hidup pada daerah berlumpur, mangrove marshes, dan di mulut sungai estuarine lingkungan (Motoh 1979). Spesies ini asli dengan Indo-Pasifik dan telah diperkenalkan ke Florida, Hawaii, dan di tempat lain, paling sering sengaja dalam upaya untuk membentuk populasi ini spesies komersial penting.
Studi menunjukkan Scylla serrata dewasa menjadi reproductively mulai dari sekitar 90 mm carapace lebar, sering dalam tahun pertama kehidupan (Robertson dan Kruger 1994, Knuckey 1996).Pada molting, laki-laki perempuan lebih menghidupkan dan melakukan persetubuhan, pengiriman spermatozoa non-mobil yang dapat disimpan oleh perempuan sampai ke beberapa bulan ke bulan sebelum digunakan untuk membuahi beberapa kuku-kuku sampai dengan 2 juta telur (Chen 1976).


III. METODE PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum lapangan biologi laut ini telah di laksanakan pada tanggal 07 April 2012 di pantai Cerocok Painan Sumatra Barat.
3.2. Bahan dan Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum biologi laut ini adalah jaring untuk menangkap biota laut, formalin untuk mengawetkan biota yang tertangkap, kamera untuk mendokumentasikan kegiatan serta gambar biota laut, plastik untuk tempat biota laut, alat-alat tulis untuk mencatat hasil tangkapan.
3.3. Metode praktikum
Metode praktikum yang digunakan adalah metode survey yaitu melakukan pengamatan atau mencari langsung biota laut ke lokasi yang telah ditentukan.
3.4. Prosedur Praktikum
Adapun prosedur praktikum ini adalah praktikan langsung turun ke lokasi yang telah ditentukan.Secara kelompok mencari dan mengumpulkan organisme laut sebanyak-banyaknya yang memungkinkan dapat diambil dan diamati.
Semua hasil biota laut yang diperoleh kemudian dimasukkan ke dalam plastik dan diberikan formalin secukupnya untuk mengawetkan biota laut.




IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Melalui identifikasi yang dilakukan di lab didapatkan hasil organisme sebagai berikut :
4.1.1. Sargassum polycystum
Klasifikasi:
Divisi : Phaeophyta
Kelas : Phaeophyceae
Ordo : Fucales
Family : Sargassaceae
Genus : Sargassum
Spesies : Sargassum polycystum
Morfologi
Gulma laut atau rumput laut merupakan salah satu sumber daya hayati yang terdapat diwilayah pesisir dan laut . Istilah "rumput laut" adalah rancu secara botani karena dipakai untuk dua kelompok "tumbuhan" yang berbeda. Dalam bahasa Indonesia , istilah rumput laut dipakai untuk menyebut baik gulma laut dan lamun .
Yang dimaksud sebagai gulma laut adalah anggota dari kelompok vegetasi yang dikenal sebagai alga ("ganggang"). Sumber daya ini biasanya dapat ditemui di perairan yang berasosiasi dengan keberadaan ekosistem terumbu karang . Gulma laut alam biasanya dapat hidup di atas substrat pasir dan karang mati. Di beberapa daerah pantai di bagian selatan Jawa dan pantai barat Sumatera , gulma laut banyak ditemui hidup di atas karang-karang terjal yang melindungi pantai dari deburan ombak. Di pantai selatan Jawa Barat danBanten misalnya, gulma laut dapat ditemui di sekitar pantai Santolo dan Sayang Heulang diKabupaten Garut atau di daerah Ujung Kulon Kabupaten Pandeglang . Sementara di daerah pantai barat Sumatera, gulma laut dapat ditemui di pesisir barat Provinsi Lampung sampai pesisir Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam .
Selain hidup bebas di alam, beberapa jenis gulma laut juga banyak dibudidayakan oleh sebagian masyarakat pesisir Indonesia. Contoh jenis gulma laut yang banyak dibudidayakan di antaranya adalah Euchema cottonii dan Gracilaria spp. Beberapa daerah dan pulau di Indonesia yang masyarakat pesisirnya banyak melakukan usaha budidaya gulma laut ini di antaranya berada di wilayah pesisir Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu , Provinsi KepulauanRiau , PulauLombok , Sulawesi , Maluku dan Papua .
Pada paper ini akan dibahas tentang rumput laut jenis Sargassum polycystum,Sargassum polycystum merupakan salah satu spesies dari makroalga divisi Phaeophyta.
4.1.2. Holothuroidea indica
Klasifikasi:
Kingdom : Animalia
Phylum : Echinodermata
Class : Holothuroidea
Genus : Holothuria
Spesies : Holothuroidea indica
Morfologi
Bagian tubuh teripang dan fungsinya, tentakel : berfungsi sebagai alat gerak ,merasa, memeriksa dan alat penagkap mangsa. Stomach/perut : sebagai alat pencernaan.Gonad : kelenjar kelamin yang berfungsi sebagai penghasil hormon kelamin. Saluran kelamin : Berfungsi sebagai saluran menuju gonad. Madreporit : Lempeng tali lapisan pada ujung saluran air Esofagus : saluran di belakang rongga mulut berfungsi menghubungkan rongga mulut dan lambung. Dorsal mesentery : berfungsi sebagai pembungkus usus dan menggantungnya ke dinding tubuh pinggang. Anus : mengeluarkan sisa metabolisme pada teripang. Cloaca : sebagai alat pencernaan. Intestin : sebagai alat pencernaan yang letaknya di antara pilorus hingga usus.
ciri-ciri:
Bentuk tubuh menyerupai mentimun yang berkulit lunak. Tidak mempunyai lengan dan duri mereduksi menjadi spikula. Daya regenerasi tinggi. Berwarna hitam coklat dan hijau. Dilengkapi alat pembelaan diri berupa zat perekat yang di hasilkan dari anullus. Mulut dan anus terletak pada ujung berlawanan. Mulut dikelilingi oleh tentakel
4.1.3. Corallina sp
Klasifikasi:
Kingdom : Plantae
Divisi : Thallophyta
Sub Divisi : Algae
Classis : Rhodophyceae
Sub Classis : Floridaeae
Ordo : Cryptonemiales
Familia : Cryptonemiaceae
Genus : Corallina
Species : Corallina sp
Morfologi
Corallina sp termasuk dalam classis Rhodophyceae atau ganggang merah, di mana kloroplasnya memgadung klorofil-a dan karotenoid yang tertutup oleh fikoeritrin sehingga nampak merah. Tubuh menyerupai kerak, mengandung kapur dan bersegmen-bersegmen serta talus bercabang menggarpu sehingga masuk dalam sub classis Floridae. Hidup di air laut, dengan cara menempel pada substrat dengan menggunakan rhizoid. Berkembangbiak dengan seksual. Terdapat tiga pergiliran keturunan yaitu gametofit, karposporofit dan tetrasporofit. Ditemukan berjarak sekitar 3 m dari tepi pantai.
4.1.4. Littorina sp
Klasifikasi:
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Ordo : Sorbeoconcha
Family : Littorinidae
Genus : Littorina
Spesies : Littorina sp.
Morfologi
Panjang cangkang 3 cm, dengan ukuran sedang. Bentuk cangkang gulungan benang. Warna cangkang putih kuning sampai coklat. Mulut cangkang berbentuk lonjong sempit denga posterior kanal. Jumlah suture tiga. Garis aksial halus dari puncak ke bawah. Tidak terdapat duri. Permukaan cangkang halus. Puncak cangkang lancip.
4.1.5. Hippopus porcellanus
Klasifikasi:
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Bivalvia
Order : Veneroida
Family : Tidacnidae
Genus : Hippopus
Spesies : Hippopus porcellanus
Morfologi
Hippopus porcellanus adalah jenis Kima kerang yang adalah penduduk umum Indo-Pasifik terumbu karang bentik masyarakat di perairan dangkal. Mereka tinggal di simbiosis dengan fotosintesis dinoflagellata ganggang ( Symbiodinium ) yang tumbuh di mantel jaringan Mereka Sessile di usia dewasa. Pada siang hari, kima membesar sehingga mantel ganggang mereka menerima sinar matahari yang mereka butuhkan untuk photosynthesize, sedangkan pigmen warna melindungi kerang terhadap cahaya yang berlebihan dan radiasi UV. Mereka mendapatkan sebagian besar (70-100%) gizi mereka dari ganggang dan sisanya dari filter makan. Bila terganggu, kerang menutup cangkangnya. Pendapat populer bahwa mereka berbahaya bagi penyelam yang terjebak atau terluka di antara cangkang menutup tajam bermata tidak benar, karena sebagai reaksi penutupan cukup lambat. ukuran besar dan mudah aksesibilitas karena itu mereka mengalami penangkapan yang berlebihan dan keruntuhan dari sediaan alami di banyak tempat dan pemusnahan dalam beberapa spesies
4.1.6. Cerithium rostratum
Klasifikasi:
Phylum : mollusca
Class : Gastropoda
Ordo : Caenogastropoda
Family : Cerithidae
Genus : Cerithium
Spesies : Cerithium rostratum
Morfologi
Cangkang kecil, tinggi mencapai 2 cm, panjang menggelondong, agak tipis dengan terpusar menggembung dan saluran sifon yang panjang dan lurus, struktur dari rusuk sumbu yang tebal yang disilang dengan rusuk spiral halus tak beraturan, membentuk manik-manik pada perpotongannya, tingkat dengan varises rendah, warna putih crem dengan garis spiral coklat halus terputus-putus dan sebuah bintik kecil coklat diatas ujung saluran interior.
4.2. Pembahasan
Gastropoda adalah hewan berukuran relatif besar yang menarik. Pada kelas hewan ini terjadi reduksi menjadi satu ginjal, beberapa jenis hanya memiliki satu insang. Cangkang limpet tidak kelihatan mengulir, meskipun pada tingkat larva, cangkangnya ulir yang kemudian hilang setelah menjadi dewasa.
Mulut dengan radula yang mempunyai deretan-deretan gigi kitin kecil melintang. Sistem sirkulasi mencakup jantung sebelah punggung dengan satu atau dua aurikel atau rongga atas dan satu ventrikel atau rongga bawah. Pernapasan dilakukan oleh satu atau banyak insang yang disebut ctenidium. Ekskresi oleh ginjal yang disebut nefridia, terdiri dari satu atau dua atau hanya satu saja. ((Romimohtarto, 2005).
Filum Echinodermata bentuk simetri meruji hanya terdapat pada dewasa, pada larva, bentuknya simetri bilateral. Arthropoda merupakan kelompok terbesar diantara seluruh dunia hewan. Namanya berasal dari kakinya yang bersendi. Sifat umum kelas ini mencakup kerangka luar keras dari kitin, yakni polisakarida majemuk, suatu jenis karbohidrat. Cangkang ini dihasilkan oleh epidermis dan karena sifatnya yang tak elastis jika mengeras, ia harus ditanggalkan secara berkala untuk memungkinkan hewan tumbuh. Sifat umum yang terpenting yang berlaku untuk semua anggota kelompok Arthropoda dan khas filum ini ini ialah. adanya embelan tubuh yang bersendi dan bebas dari bulu getar. Bentuk tubuhnya simetri bilateral dan tubuhnya terdiri dari ruas-ruas yang tersusun secara linier berurutan.
Sargassum polycystum merupakan sumber penghasil alginat. Alginat merupakan polimer organik yang tersusun dari dua unit monomer yaitu L-asam guluronat dan D-asam manuronat. Polimer alginat yang bersifat koloid, membentuk gel, dan bersifat hidrofilik menyebabkan senyawa ini dimanfaatkan sebagai emulsifying agent, thickening agent, dan stabilizing agent.
Begitu juga dengan Sargassum polycystum , tumbuhan ini dapat menghasilkan alginat dimana yang memiliki tekstur yang kenyal dan lebih sesuai untuk dimanfaatkan dalam kosmetik ataupun penggunaan sebagai moisturizing, Selain itu Sargassum mengandung senyawa untuk anti-bakteri, anti-tumor, anti-tekanan darah tinggi, mengatasi gangguan kelenjar, dan penyakit gondok.
Pada Holothuroidea umumnya alat reproduksi terpisah, kecuali beberapa jenis, ada yang hermafrodit. Sel telur maupun sperma dikeluarkan ke air laut, dan selanjutnya terjadi fertilisasi yang menghasilkan zigot. Zigot tumbuh menjadi larva aurikularia (Pratiwi,2004).
Hippopus porcellanus adalah jenis Kima kerang yang adalah penduduk umum Indo-Pasifik terumbu karang bentik masyarakat di perairan dangkal. Mereka tinggal di simbiosis dengan fotosintesis dinoflagellata ganggang ( Symbiodinium ) yang tumbuh di mantel jaringan Mereka Sessile di usia dewasa. Pada siang hari, kima membesar sehingga mantel ganggang mereka menerima sinar matahari yang mereka butuhkan untuk photosynthesize, sedangkan pigmen warna melindungi kerang terhadap cahaya yang berlebihan dan radiasi UV. Mereka mendapatkan sebagian besar (70-100%) gizi mereka dari ganggang dan sisanya dari filter makan. Bila terganggu, kerang menutup cangkangnya. Pendapat populer bahwa mereka berbahaya bagi penyelam yang terjebak atau terluka di antara cangkang menutup tajam bermata tidak benar, karena sebagai reaksi penutupan cukup lambat. ukuran besar dan mudah aksesibilitas.  
V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Dari praktikum biologi laut yang dilakukan dapat diketahui bahwa tingkat keragaman organisme namun klimpahannya tinggi. Hal ini dapat terlihat ketika pengambilan organisme-organisme laut yang disepanjang daerah pantai Carocok hanya beberapa spesies tertentu yang dapat ditemukan dan jumlahnya banyak. Banyaknya spesies tertentu dapat diperkirakan disebabkan oleh tempat hidup organisme-organisme laut terssebut sangat mendukung sebagai habitat hidupnya.
5.2. Saran
Dalam laporan ini penulis memberikan saran bagi praktikan sebaiknya langsung menyelesaikan tugasnya ketika di lapangan dan waktu yang tersisa dapat dimanfaatkan dengan kegiatan lainnya sehingga tujuan awal praktikum itu tetap terlaksana. Selain itu penulis berharap agar buku identifikasi organisme-organisme laut lebih dilengkapi lagi sehingga mempermudah para praktikan dalam mengidentifikasi organisme sampel yang telah didapat.




DAFTAR PUSTAKA
Dahuri, R. 1996. Penerapan Konsep Pembangunan Berkelanjutan Dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam Wilayah Pesisir dan Lautan. Bogor
Dahuri, R. 2003. Keanekaragaman Hayati Laut. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
http://lovechopin.wordpress.com/2010/02/14/sargassum-polycystum/
http://www.sith.itb.ac.id/herbarium/index.php?c=herbs&view=detail&spid=229817
Nybakken, j. W., 1988. Biologi Laut suatu pendekatan ekologis. Terjemahan penernit PT. Gramedia. Jakarta.
GordonAL.2000.“Ocean”Discoverychannelschool.http://www.discoveryschool.com/homeworkhelp/worldbook/atozgeography/o/3987.html, diakses 10 Mei 2002.
Rimimohtartao, Kasijian. 2001, Biologi Laut, Pengetahuantentang biota laut, Djambatan, Jakarta. 540 hal
Cooke, R.U. and J.C. Doornkamp. 1990. Geomorphology in Environmental Management. 2nd ed. New York, USA: Oxford Univ. Press, inc.
(Eric Hugo@aol.com).
Birowo, s. 1991. Pengantar Oseanografi dalam J. H. KUNARSO dan RUYITNO (eds). Status pencemaran laut di Indonesia dan teknik pemantauannnya. LIPI-Jakarta.
Chadwick, Nanette.1988. Competition and locomotion in a free-living fungiid coral. J. Exp. Mar. Biol. Mar Biol. Ecol 123: 189-200.







LAMPIRAN






Lampiran 1: Alat dan bahan praktikum






Jaring kantong plastik





Formalin kotak ice box











Lampiran 2 : Gambar biota yang ditemukan

Holothuroidea indica. Hippopus porcellanus

Sargassum polycystum Corallina sp


Littorina sp Cerithium rostratum























Selasa, 30 Oktober 2012

8 TIPS menghilangkan STRESS

Stress merupakan keadaan di mana kita merasa tidak nyaman, terbebani, dan perasaan yang tidak karuhan. Stress bisa dialami oleh anak kecil maupun orang dewasa, hanya saja pada anak-anak berbeda dan tidak sesering orang dewasa yang biasanya sering mengalami stress karena terlalu banyak pekerjaan yang belum diselesaikan, stress karena anda belum mendapatkan pekerjaan dan banyak lagi masalah – masalah yang menyebabkan stress, baik yang disebabkan karena factor fisikologis maupun keadaan kesehatan yang memicu perasaan stress sehingga membuat susah tidur. Berikut beberapa dari saya cara mengatasi stress yang bisa membantu anda: 1. Atasi Stres dengan tetap Berfikir Positive Berfikir positive hal penting dalam anda memanage fikiran anda, konsentrasilah pada hal – hal positive jika anda belum sapai pada tujuan yang harapkan, tentunya dengan tidak menyalahkan siapa pun dari diri oranglain mau pun anda sendiri. Untuk kawan-kawan yang akan menghadapi SNMPTN dan bila kalian Galau atau stress maka langkah paling sederhana adalah tarik napas dalam-dalam, tahan agak lama dan hempuskan secara perlahan. Biasanya akan merasa lebih baik. Hal ini akan berpengaruh lebih baik karena timbul relaksasi terhadap otak kita. 2. Atasi Stress dengan berolah raga Cobalah mengalihakan persaan stress yang anda alami dengan berolah – raga, dengan begitu konsentrasi anda akan terpusat pada gerak yang anda lakukan, lakukan olah raga dengan rilek dan terfokus. 3. Atasi Stress dengan Menulis atau Membaca Mengalihkan perasaan stress yang anda alami dengan menulis atau membaca bisa anda praktekkan, hal ini secara tidak langsung akan merangsang pikiran untuk focus pada apa yang sedang anda tulis atau apa yang sedang anda baca. 4. Atasi Stress dengan Hobby Mengatsi stress dengan cara melakukan hobby bisa mengalihkan perasaan stress pada hal – hal yang anda senangi, seperti memancing, memasak, menanam bunga, memperbaiki taman bunga dan sebagainya bisa anda coba untuk mengalihkan perasaan stress anda. 5. Atasi stress dengan mendengar Musik Mengatasi stress dengan mendengarkan musik adalah cara merangsang otak merasakan rileksasi. Untuk mengatasi stress dengan cara ini pilihlah musik – musik rileksasi seperti soft music instrumental ataupun nuansa musik yang membuat suasana hati kita menjadi aman/tidak kacau. 6. Atasi stress dengan menonton film Mengatasi stress dengan menonton film bisa anda lakukan dengan keluarga, misalkan dengan istri dan anak (bagi yang udah menikah), hal ini akan membuat hubungan keluarga lebih intim. 7. Atasi stress dengan curhat Mengatasi stress dengan curhat dengan pacar, kawan dekat, sahabat dan orang dekat lainnya bisa membuat perasaan anda terasa lebih lega, walau anda belum menemukan jawaban namun tips ini dijamin bisa melegakan beban anda. 8. Atasi stress dengan bersyukur dan berdoa Cara mengatasi stress dengan bersyukur adalah cara terakhir yang saya berikan untuk anda. Cara ini akan meningkatkan fikiran positif anda dengan mensyukuri pada apa yang anda sudah lakukan dan mendoakan kepada sang pencipta agar diberikan kekuatan sehingga anda bisa melakukan lebih baik lagi untuk masa mendatang. Jadi kalau anda belum sampai pada tujuan maka bersyukurlah anda sudah melakukannya hari ini dan berkomitmen pada diri jika anda akam melakukannya lebih baik dihari esok.
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India